Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada triwulan II-2026. Secara kumulatif, ekonomi Indonesia pada semester I-2026 tumbuh 5,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Pertumbuhan ekonomi kita tetap positif. Ini penting karena pemerintahan Prabowo berjalan dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, mulai dari perang dagang, gejolak geopolitik hingga perubahan rantai pasok dunia," kata Syafrudin.

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi tersebut perlu diterjemahkan menjadi pemerataan kesejahteraan, penciptaan lapangan kerja, penguatan UMKM, dan peningkatan daya beli masyarakat.

Syafrudin juga menyoroti sejumlah program pemerintah, antara lain Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, revitalisasi pendidikan, Kampung Nelayan, Sekolah Rakyat, serta hilirisasi.

Ia menilai MBG tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan gizi, tetapi juga dapat memberikan dampak ekonomi apabila mampu meningkatkan permintaan terhadap produk petani, peternak, nelayan, UMKM, dan pelaku usaha lokal.

"MBG dan Koperasi Desa Merah Putih merupakan kombinasi kebijakan yang menarik karena menyatukan agenda sosial dengan pemberdayaan ekonomi rakyat," ujarnya.

Di bidang infrastruktur, Syafrudin menyoroti pembangunan dan peningkatan jalan daerah sepanjang 1.151 kilometer di 37 provinsi melalui program Instruksi Presiden Jalan Daerah (IJD) Tahun Anggaran 2025.