"Saya belum pernah merasa selemah ini. Saya tidak merasakan sakit, tetapi saya terus bertanya-tanya mengapa saya begitu lambat, mengapa saya tidak memiliki stamina. Saya sudah lama melewati batas fisik saya, dan hanya berkat kekuatan orang lain saya berhasil sampai di puncak," ungkapnya.

Ada berbagai tantangan yang tak mudah dihadapi oleh pendaki, terutama bagi yang sudah berusia lanjut, Dikutip dari laman CDC, lingkungan dataran tinggi membuat para pendaki terpapar dingin, kelembapan rendah, peningkatan radiasi ultraviolet, dan penurunan tekanan udara, yang semuanya dapat menyebabkan masalah kesehatan. Adapun masalah kesehatan yang bisa dialami di antaranya:

Altitude sickness atau penyakit ketinggian adalah istilah untuk kondisi medis yang dapat terjadi ketika seseorang berpindah ke ketinggian yang lebih tinggi terlalu cepat. Semakin tinggi seseorang berpijak maka semakin tipis atmosfernya.

Dikutip dari laman Cleveland Clinic, hal ini berarti lebih sedikit oksigen yang didapat daripada di ketinggian yang lebih rendah. Penyakit ketinggian terjadi ketika tubuhkesulitan menyesuaikan diri dengan perbedaan jumlah oksigen yang dapatkan setiap kali bernapas.

Hipotermia juga bisa dialami oleh pendaki. Dikutip dari laman Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Dokter Spesialis Pendidikan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif UMY dr Yusda Kris Sari Wijaya Sp.An-TI., menjelaskan bahwa hipotermia adalah kondisi ketika suhu inti tubuh turun di bawah 35 derajat Celcius. Kondisi ini menyebabkan berbagai organ gagal berfungsi secara optimal, yang berpotensi mengancam jiwa.

"Tubuh membutuhkan suhu optimal agar semua organ dapat berfungsi secara optimal. Ketika suhu tubuh turun, fungsi jantung, otot, dan bahkan sistem hormonal akan terpengaruh. Pada pendaki yang kelelahan, cadangan glukosa untuk menjaga suhu tubuh berkurang. Oleh karena itu, kemampuan tubuh untuk melawan suhu dingin juga menurun," jelas dr Yusda.

Hipotermia juga bisa menghambat distribusi oksigen ke jaringan tubuh. Hal ini membuat sel-sel tubuh mengalami kekurangan oksigen, yang kemudian memengaruhi fungsi otak. Selanjutnya, kondisi ini bisa melemahkan kemampuan tubuh untuk merespons suhu dingin.