NADIKABAR.COM — Keterbatasan bukan penghalang bagi pelajar Madrasah Aliyah (MA) untuk melahirkan inovasi sains yang aplikatif. Berangkat dari keresahan terhadap ancaman banjir dan kebakaran hutan, siswa dari MA Husnul Khotimah Kuningan dan MAN 2 Lebak berhasil mengembangkan teknologi mitigasi bencana berbasis Internet of Things (IoT) dan mikrokontroler dengan biaya produksi yang sangat terjangkau, yakni di bawah Rp 1 juta per unit.
Dari pondok pesantren Husnul Khotimah Kuningan, duet Bio Royan dan Naufal Imam Fahmi memperkenalkan Arsa Ban, sebuah robot pemantau banjir. Alat ini dirancang khusus untuk membantu warga di bantaran sungai kecil atau saluran drainase yang selama ini belum terjangkau sistem pemantauan modern.
Bio mengaku ide ini muncul setelah melihat kerabatnya di kawasan Ciliwung yang kerap terdampak luapan air hingga ketinggian dua meter.
"Kami membuat robot ini agar memudahkan dan juga membuat warga-warga sekitar yang tinggal di dekat sungai kecil maupun drainase yang belum memiliki sistem pemantauan, agar mereka dapat melakukan evakuasi dengan lebih cepat," ujar Naufal saat menjelaskan tujuan inovasi mereka kepada NadiKabar, Senin (31/8/2026).
Secara teknis, Arsa Ban mengandalkan mikrokontroler Arduino Uno R3 yang dipadukan dengan sensor ultrasonik JSN-SR04T dan float switch. Sistem peringatan dini ini menggunakan indikator lampu tiga warna yakni hijau (aman), kuning (waspada), dan merah (bahaya). Begitu status bahaya terdeteksi, perangkat akan otomatis mengirimkan pesan singkat (SMS) ke ponsel warga.