"Kami memilih SMS karena jauh lebih mudah untuk menjangkau masyarakat secara luas. Karena jika menggunakan Telegram, tidak semua orang memiliki Telegram. Jadi biar lebih simpel," kata Bio. Ia menambahkan, sistem ini mampu menampung hingga 500 nomor telepon warga yang datanya dapat diintegrasikan langsung dari Disdukcapil tanpa perlu pengisian formulir manual.

Untuk mendukung operasional di lokasi terpencil, Arsa Ban dilengkapi panel surya sebagai sumber energi. Meski sempat terkendala fasilitas laptop saat perakitan selama dua minggu di pesantren, karya berbiaya rendah ini sukses menyabet penghargaan Honorable Mention dan menempati peringkat ke-8 pada final Kompetisi Muslim Sains Indonesia (KOSMI).

Inovasi serupa juga lahir dari tangan Alya Nurul dan Nabil Lutfiansyah, siswa kelas 12 IPA MAN 2 Lebak, Banten. Mereka menciptakan Solar Fire Guard Sentinel, alat pendeteksi kebakaran lahan dan pemukiman. Proyek ini dipicu oleh maraknya kebakaran di wilayah mereka, termasuk insiden yang pernah terjadi tepat di belakang sekolah.

"Sebenarnya masalah utamanya itu bukan hanya api yang membesar, melainkan kebakaran yang terlambat kita ketahui. Makanya kita membuat robot yang di mana dia dapat memberitahukan kepada pengguna agar kita bisa meminimalisir kebakaran itu apinya cepat membesar," tutur Alya.