"Seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air, yang menggerakannya adalah air, kalau angin, ya lewat angin. Kalau ini, dari tekanan. Persis prinsip kerja PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap), tapi versi kecil dan ramah lingkungan," terangnya.
Satu botol minyak jelantah yang dikumpulkan ke dalam botol air mineral, ia mengatakan, dapat menyalakan lampu bohlam 10 watt selama tiga jam. Hal tersebut setara dengan kurang lebih 600 mililiter minyak.
Ia mengatakan, modal pembuatan alat-alat menghabiskan dana kurang dari Rp2 juta. Mayoritas komponen pun dapat dijumpai di marketplace atau bahkan di rumah masing-masing.
"Tapi untuk merakitnya kan perlu mesin bubut, itu kami dibantu oleh bengkel," jelasnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan, pembangkit listrik ini bisa dikembangkan ke skala rumah tangga.
Namun tentunya, alat dan bahan baku yang diperlukan akan jauh lebih besar.
"Untuk menghidupkan listrik satu RW misalnya, ya perlu dihitung lagi dana dan modalnya, jelas besar. Tapi secara teknis ini bisa saja dialirkan ke rumah-rumah, ya seperti listrik pada umumnya saja," ungkapnya.