Dalam kesempatan yang sama, Presiden Korea Institute of Information Security and Cryptology (KIISC) Howon Kim menekankan bahwa kerja sama perlu diterjemahkan menjadi proyek dengan tujuan dan ukuran keberhasilan yang jelas.
Menurut dia, setiap proyek harus menjawab persoalan yang hendak diselesaikan, pengguna layanan, pihak yang membutuhkan, serta cara mengukur hasilnya.
Menurut Kim, penerapan AI di rumah sakit tidak cukup hanya dengan menyediakan teknologi, tetapi juga harus didukung data untuk melatih sistem, anggaran operasional, serta prosedur yang jelas untuk menangani kesalahan penggunaan AI.
Kim juga menilai kedua negara memiliki keunggulan yang dapat saling melengkapi.
Indonesia memiliki sumber daya manusia muda yang menguasai teknologi, pengetahuan mengenai kondisi infrastruktur lokal, serta pasar yang besar.
Sementara itu, Korea Selatan memiliki keunggulan dalam pengembangan AI, integrasi sistem, keamanan siber, dan sistem industri.