NADIKABAR.COM — Korban tewas akibat banjir bandang di Nepal telah melampaui 1.000 orang, sementara 3.900 lainnya masih hilang, menurut data terbaru Otoritas Nasional Penanggulangan Bencana Nepal.

Menteri Luar Negeri Nepal, Shisir Khanal, mengatakan prioritas utama pemerintah saat ini adalah menemukan para korban yang hilang dan menyalurkan bantuan darurat.

Dalam konferensi pers Sabtu (29/08), Khanal menyebut 4.451 orang berhasil diselamatkan, termasuk 187 warga negara asing.

Di Tibet, stasiun televisi pemerintah China, CCTV, melaporkan sebanyak 16 orang tewas akibat longsor lumpur di Gyirong, Kota Shigatse, hingga Sabtu (29/08) pukul 18.00 waktu setempat. Adapun sebanyak 546 orang lainnya belum ditemukan.

CCTV juga melaporkan bahwa dari 546 orang yang hilang akibat banjir di Tibet, 261 di tim redaksi mereka adalah warga negara asing yang berasal dari 23 negara.

Operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung dengan melibatkan tim SAR, tenaga medis, dan petugas tanggap darurat di berbagai wilayah terdampak. Lebih dari 180.000 personel penyelamat dan hampir 40 helikopter telah dikerahkan untuk mendukung operasi tersebut.

Salah satu tantangan utama yang dihadapi tim penyelamat adalah mencari korban di kawasan yang tertutup lumpur tebal, di mana masih ada kemungkinan sejumlah orang ditemukan dalam keadaan selamat.

Pemerintah Nepal berkoordinasi dengan keluarga korban untuk mengidentifikasi mereka yang masih hilang, sementara para diplomat membantu komunikasi dengan keluarga warga negara asing yang belum ditemukan, tambah Khanal.

Di tengah kekhawatiran akan potensi banjir susulan, Khanal mengatakan risiko tersebut terus dipantau dan wilayah terdampak kini berada dalam status siaga tinggi.

Ia menjelaskan, satu-satunya cara untuk mencapai sejumlah lokasi yang paling parah terdampak adalah menggunakan helikopter. Namun, sebagian wilayah telah berubah menjadi "lahan rawa", sehingga helikopter tidak dapat mendarat.

Khanal juga mengatakan pemerintah tengah mencari dukungan untuk operasi penyelamatan di terowongan. Menurutnya, dua tim tambahan dari China dijadwalkan tiba untuk membantu upaya pencarian dan penyelamatan.

Getty ImagesPetugas berupaya membantu penyintas banjir bandang di Trishuli, Nepal, 27 Agustus lalu.

Direktur Eksekutif ActionAid Nepal, Sujeeta Mathema, menggambarkan banjir bandang yang menerjang Nepal pada Rabu (26/08) sebagai bencana yang lebih menyerupai "tsunami".

"Kami tidak pernah membayangkan banjir seperti ini, bahkan dalam skenario terburuk sekalipun," kata Mathema kepada BBC Breakfast. Ia menambahkan bahwa kondisi di wilayah terdampak saat ini sangat memprihatinkan.

Menurut Mathema, banyak jalan dan jembatan tersapu arus, sementara pihak berwenang masih belum mengetahui secara pasti berapa banyak orang yang tertimbun lumpur atau terjebak di dalam terowongan dan bangunan.

Ia juga mengatakan upaya koordinasi dengan tim penyelamat terhambat oleh terputusnya aliran listrik. Banyak warga dan petugas kini bergantung pada generator maupun panel surya untuk mendapatkan pasokan energi.

Lembaga-lembaga bantuan internasional dan sejumlah pemerintah menyatakan akan meningkatkan upaya tanggap darurat, menyusul laporan bahwa hampir 2.000 orang masih dinyatakan hilang.

Uni Eropa, Kanada, dan Amerika Serikat termasuk di tim redaksi pihak yang telah mengumumkan pengiriman bantuan logistik maupun dukungan dana untuk Nepal.

Juru bicara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga mengatakan puluhan ribu rumah tangga kini membutuhkan bantuan pangan serta pasokan air minum darurat.

Para pejabat setempat mengatakan kepada BBC bahwa runtuhnya gletser memicu gelombang banjir besar tersebut.

Arus deras menerjang rumah-rumah dan jalan-jalan, serta menghancurkan salah satu jalur penyeberangan utama di perbatasan Nepal-Tibet.

Situasi di Nepal saat ini "kacau", menurut Dhruba Gurmachhan dari organisasi bantuan kemanusiaan World Vision.

Berbicara kepada BBC Radio 5 Live dari Nepal, Gurmachhan mengatakan warga yang terdampak bencana "sangat menantikan" bantuan.

"Rumah-rumah mereka hanyut terbawa arus... semuanya lenyap. Ini adalah situasi yang sangat memilukan dan kritis di sini," ujarnya.

Meski demikian, Gurmachhan mengatakan ia yakin "masih ada harapan" bahwa mereka yang hingga kini belum ditemukan "dapat ditemukan dalam keadaan hidup", karena gangguan konektivitas jaringan komunikasi masih menyulitkan kontak dengan sejumlah wilayah.

"Pemerintah bekerja tanpa lelah untuk menemukan mereka yang hilang... dan banyak lembaga kemanusiaan juga tengah berupaya memberikan bantuan," tambahnya.

Pemerintah China memperingatkan adanya "risiko tinggi" bahwa sebuah danau yang terbentuk akibat longsor baru-baru ini dapat menjebol tanggul alaminya, sehingga memicu banjir susulan di wilayah hilir.

Hingga Jumat, sekitar 2,5 juta meter kubik air telah terkumpul di danau bendungan alami yang berada di dekat perbatasan Nepal-Tibet, menurut stasiun televisi pemerintah China, CCTV.

ReutersSeorang lansia korban banjir bandang dievakuasi di Trishuli, Nepal, 26 Agustus 2026.

Danau bendungan alami adalah badan air yang terbentuk ketika material longsoran atau puing-puing menghalangi aliran sungai.

Danau ini terbentuk di pertemuan Sungai Chhochen Khola dan Purepu Tsangpo, dan mulai meluap pada Kamis (27/08), menurut Kementerian Sumber Daya Air China.

Para pejabat mengatakan sekitar tiga juta meter kubik air diperkirakan akan mengalir ke danau tersebut tim redaksi Kamis hingga akhir pekan, sehingga meningkatkan "risiko tinggi tanggul alami jebol" dan memicu banjir lebih lanjut di daerah hilir.

Naresh Goyal berusaha menahan emosinya saat berbicara tentang saudara perempuannya, Neetu Goyal Tiwari, 51 tahun, yang hilang sejak banjir mematikan menerjang Nepal pada Rabu.

Tiwari, seorang warga negara UK, berangkat dari London menuju Delhi sebelum melanjutkan perjalanan ke Kathmandu pada 14 Agustus bersama rombongan dari organisasi spiritual Isha Foundation.

Kabar terakhir yang diterima keluarganya menyebutkan bahwa ia berada di kantor imigrasi di Gyirong, kota perbatasan tim redaksi Nepal dan Tibet.

"Mengikuti yatra itu adalah impiannya. Dia sangat bahagia dan antusias," kata Goyal kepada BBC, merujuk pada perjalanan ziarah spiritual.

Tiwari dijadwalkan kembali ke India pada Kamis untuk bertemu kakak laki-lakinya serta kedua orang tuanya.

Namun, alih-alih berkumpul kembali dengan keluarga, mereka kini berjuang mencari kepastian tentang keberadaannya.

"Kami telah menghubungi setiap nomor layanan darurat yang diberikan pemerintah India dan juga menghubungi Kedutaan Besar Inggris di Kathmandu," ujar Goyal.

Dengan suara bergetar, ia menambahkan: "Tolong bantu kami menemukannya. Kami semua sangat ketakutan."