Direktur Pusat Studi Bencana di Universitas Tribhuvan, Nepal, Basanta Raj Adhikari, mengatakan kepada program BBC Newsday bahwa ada risiko munculnya "gelombang kedua dan ketiga" bencana pada hari ini atau besok.
"Kami belum tahu pasti," katanya, seraya menambahkan bahwa ia terus berdiskusi dengan rekan-rekannya di China yang sedang memantau situasi tersebut. "Curah hujannya tidak tinggi, tetapi longsor bisa saja terjadi."
Ia menambahkan bahwa timnya telah lama memantau berbagai ancaman di kawasan Pegunungan Himalaya.
"Perubahan iklim benar-benar sedang terjadi di sini," ujarnya. "Kami terus melakukan pengamatan."
AFP via Getty Images Sejumlah rumah terendam air berlumpur di sepanjang tepi sungai di Distrik Nuwakot, Nepal, Rabu (26/08). Banjir bandang juga menyapu permukiman di kawasan ini.
Seorang warga menyusuri jalan yang tertutup lumpur setelah banjir bandang melanda Trishuli, Nepal, 27 Agustus 2026. (Getty Images)
Peristiwa ini adalah bencana paling dahsyat di Nepal sejak gempa pada 2015, yang menewaskan sekitar 9.000 orang.
Visual dari udara menunjukkan kerusakan yang meluas pada rumah, jalan, dan jembatan di Sungai Bhotekoshi di wilayah Rasuwa, Nepal.
"Seluruh bangsa terkejut dan sangat berduka," kata Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah.
Selain di Nepal, banjir dan longsor juga terjadi di Distrik Gyirong, Tibet.
Perbatasan di Gyirong adalah titik penyeberangan utama bagi wisatawan dan lalu lintas tim redaksi China dan Nepal.
Pada hari Rabu, media pemerintah melaporkan "banyak korban jiwa" tak lama setelah tanah longsor terjadi di perbatasan bersama.
Beberapa distrik hilir di sepanjang perbatasan Nepal-China terdampak banjir dan longsor ini. Para pejabat setempat menyebut bencana ini memicu kerugian besar, baik nyawa dan harta benda, tapi mereka belum memiliki estimasi yang jelas.
Sejumlah permukiman penduduk di distrik Rasuwa dan Nuwakot di sepanjang tepi Sungai Bhotekoshi, Nepal, merupakan yang terdampak paling parah. Kawasan ini tidak padat penduduk dan jalanannya berfungsi sebagai jalur vital utama untuk perdagangan Nepal-China.
Infrastruktur penting di kawasan itu, seperti pembangkit listrik tenaga air, jalan raya, dan jembatan telah hancur.
Ribuan turis dari berbagai negara melakukan perjalanan melalui daerah ini untuk mengunjungi Kailash Mansarovar, yang terletak di Tibet.
Setiap tahun selama festival Janai Purnima, ratusan peziarah mengunjungi Gosaikunda, yang terletak di dalam taman nasional di wilayah tersebut, untuk beribadah.
Apa saja yang telah diketahui terkait banjir dan longsor di Nepal ini?
"Anggota keluarga saya tersapu banjir di depan mata saya," kata Kalpana Malla, warga Distrik Nuwakot, Nepal.
Kalpana mengatakan, ayah, ibu, saudara perempuan, dan anak-anak saudara perempuannya semuanya tersapu banjir dan longsor.
"Mereka tidak bisa melarikan diri dari banjir, tidak ada kesempatan sama sekali," katanya.
"Banjir ini merenggut segalanya. Saya dan putra saya memanjat atap rumah dan selamat, tapi saya tidak bisa menjelaskan bagaimana kami bisa selamat," ujarnya.
AFP via Getty ImagesSeorang korban banjir dirawat di sebuah rumah sakit di Distrik Nuwakot, Nepal, Rabu (26/08).
Putra Kalpana, Sugam Malla, berkata dia menyelamatkan ibunya dengan menarik tangannya.
"Sebelumnya saya telah memberikan ponsel saya kepada saudara perempuan saya agar tetap aman dan dapat menghubungi orang untuk meminta bantuan. Tapi sekarang dia tidak dapat dihubungi, ponselnya mati. Saya khawatir dia pasti tersapu banjir," kata Sugam.
Warga lainnya, Goma Pandit, kehilangan semua hewan ternaknya.
"Lahan pertanian saya juga hanyut. Sepuluh karung biji sawi, berton-ton jagung dan padi semuanya hilang. Tidak ada yang tersisa," ujarnya.
ReutersRekaman CCTV menunjukkan orang-orang berlari menjauh saat lumpur dan banjir bandang menghancurkan bangunan di sebuah lembah di perbatasan Nepal-China, di Gyirong, Tibet, Rabu (26/08).
Warga Nepal penyintas peristiwa ini, Keshav Prasad Baral, menyebut banjir di perbatasan tim redaksi Nepal dan Tibet tampak seperti "semburan lumpur besar yang datang langsung ke arah kami".
Laki-laki berusia 68 tahun itu kini tengah dirawat di rumah sakit. Dia berkata, air naik semakin tinggi sebelum memasuki rumahnya.
Saat peristiwa itu terjadi, Keshav berusaha meraih tangan istrinya. Namun istrinya tetap tersapu banjir dan longsor.
"Empat atau lima jam kemudian, sebuah helikopter datang untuk menyelamatkan saya. Istri saya masih berada di suatu tempat di bawah lumpur. Dia telah tiada," katanya.
Banyak keluarga masih terus mencari kerabat mereka yang hilang.
Shreejana Shrestha, jurnalis BBC Nepali, mengunjungi sebuah rumah sakit di Kathmandu. Beberapa korban selamat diterbangkan dengan helikopter untuk menjalani perawatan di rumah sakit tersebut.
ReutersSejumlah warga memandangi lanskap permukiman mereka yang tersapu dan terdampak banjir di Nepal, Rabu (26/08).
Di sisi lain, banyak keluarga berkumpul di luar rumah sakit. Mereka dengan harapan menemukan orang-orang terkasih mereka.
Warga Nepal, Ram Kumari Shrestha, mencari suaminya. Saat bencana terjadi, suaminya yang bekerja sebagai pengemudi sedang menuju Distrik Rasuwa.
Ram belum mendengar kabar darinya sejak satu hari sebelum banjir dan longsor terjadi.
Terdapat 45 warga Indonesia yang berdomisili di Kathmandu, Nepal, menurut Kementerian Luar Negeri Indonesia. Mereka bekerja di sektor perhotelan.
Namun hingga berita ini dipublikasi, Kedutaan Besar Indonesia di Dhaka dan di Beijing terus belum terdapat laporan mengenai WNI yang terdampak banjir dan longsor ini.