Posisi cadev September 2026 itu, lanjut Josua, dipengaruhi terutama oleh penarikan pinjaman luar negeri pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa, di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah Bank Indonesia (BI) sebagai respons terhadap ketidakpastian pasar keuangan global yang tinggi.

Lebih lanjut, posisi cadev pada akhir September 2026 setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Rupiah bergerak sideways pada Rabu (7/10) dan mencatatkan kinerja yang lebih baik dibandingkan mayoritas mata uang Asia. Sebagian besar mata uang regional melemah seiring meningkatnya tensi di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak,” kata Josua.