"Prospek perekonomian global masih tertekan seiring dengan eskalasi konflik geopolitik. Masih kuatnya tensi perang di Timur Tengah mendorong tetap tingginya harga minyak dan berbagai komoditas lainnya," jelas Suahasil.

"Kita lihat di sejumlah bank sentral negara-negara utama seperti The Fed di Amerika, European Central Bank, dan juga Bank of Japan dan keseluruhannya telah menaikkan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis poin pada bulan September, serta kita perkirakan akan berlanjut pada jangka waktu ke depan sehingga kita memasuki periode yang sering disebut dengan higher for longer," paparnya lagi.

Sementara di dalam negeri, tekanan juga muncul dari fenomena arus keluar modal asing alias capital outflow imbas laporan Morgan Stanley Capital International (MSCI). Menurutnya kondisi ini turut memberikan tekanan tambahan terhadap tingkat likuiditas domestik yang memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.