NADIKABAR.COM — Coba buka TikTok sekarang. Anda akan menemukan dua jenis humas. Pertama, humas berjas rapi yang membacakan siaran pers. Kedua, pemilik usaha pentol di Rungkut, Surabaya, yang live dengan pakaian apa adanya, suara serak, dan wajah lelah karena dagangannya belum laku.
Mana yang lebih menarik perhatian Anda? Hampir pasti yang kedua.
Itulah gejala terjadinya pergeseran makna public relations (humas), deinstitusionalisasi humas.
Dulu, humas adalah sebuah institusi yang ditandai dengan jabatan. Harus ada divisinya, harus ada siaran persnya, harus ada juru bicaranya yang bicaranya hati-hati. Sekarang, di Instagram dan TikTok, humas itu adalah pemengaruh atau pemilik usaha itu sendiri. Tidak ada divisi, tidak ada naskah.