Perbedaannya, saat ini pemilik usaha sekaligus menjalankan fungsi humas. Mereka menggunakan gawai untuk berkomunikasi dengan follower-nya. Di sini, penting menampilkan kejujuran.

Puluhan UMKM kuliner di Surabaya yang diamati. Tidak ada satu pun punya staf humas. Namun, mereka adalah praktisi PR paling canggih yang pernah saya temui.

Mengapa? Karena mereka memahami satu hal yang tidak diajarkan di buku teks PR lama, yaitu di era algoritma, yang dijual bukan lagi produk, tapi empati. Inilah konsep kedua yang mengikat fenomena pertama. Model empati algoritma.

Algoritma TikTok dan Instagram tahun 2026 tidak lagi bodoh. Ia tidak hanya membaca tagar #kulinerSurabaya. Ia membaca ketulusan. Ia membaca berapa lama orang menonton pemilik usaha yang menangis, ia membaca komentar "tetap semangat kak", ia membaca share dan air mata. Konten yang tulus ia anggap autentik, lalu ia dorong ke ribuan FYP.