Toleransi memang sering seperti itu; Toleransi tidak selalu berupa pernyataan indah tentang kerukunan antarumat beragama. Kadang hanya sebuah kesediaan untuk mengurangi suara sendiri. Ada kesadaran sederhana di sini, bahwa dunia tidak hanya terdiri atas suara kita.
Bisa jadi, Sila Pertama bermula dipupuk dari kesadaran yang sesederhana itu, bahwa keyakinan kita tidak perlu mengganggu keberadaan keyakinan orang lain.
Di lain waktu, kita membuka media sosial di ponsel. Di layar, seseorang yang tidak kita kenal mengunggah sesuatu yang memancing amarah.
Jempol bergerak. Kita mengetik sebaris kalimat kasar. Saat membacanya ulang, ada rasa puas, orang itu memang layak mendapatkannya. Namun, pada detik berikutnya, kalimat itu kita hapus.
Apa yang sebenarnya terjadi pada detik itu? Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang mencatatnya sebagai sebuah prestasi. Satu hal yang pasti adalah seseorang, di suatu tempat, batal menerima sebuah penghinaan.
Peradaban manusia sesekali bertahan bukan karena orang-orangnya tahu apa yang harus dikatakan, melainkan karena sebagian dari mereka tahu apa yang sebaiknya tidak dikatakan.
Kita sering menyalahkan media sosial atas melunturnya adab manusia. Ini tidak sepenuhnya benar. Media sosial hanya menyingkap betapa rapuhnya adab saat jarak membuat kita lupa bahwa di balik layar ada manusia lain.