Karena itu, penerapan Sila "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab" bisa menemukan hakikat barunya yang paling sederhana dalam aksi satu jempol yang tidak jadi menekan tombol kirim.

"Persatuan Indonesia" juga memiliki persoalan skala. Kita gemar membicarakan persatuan dalam lingkup besar: negara, wilayah, suku, bahasa, agama, hingga bendera. Semua itu benar. Namun, ada persatuan yang bekerja dalam ukuran yang jauh lebih kecil.

Warung di dekat rumah, misalnya. Kita membeli kopi di sana. Penjualnya adalah tetangga. Uang berpindah tangan. Sebagian nanti dipakai membeli beras, sebagian untuk membayar listrik, sebagian mungkin untuk membeli susu anak, dan besok pagi ia bisa membuka warungnya kembali.

Tak ada yang menganggap secangkir kopi sebagai peristiwa ekonomi nasional. Memang bukan. Namun, sebuah bangsa tak hanya dibangun oleh angka pertumbuhan, gedung pencakar langit, atau perusahaan raksasa. Bangsa juga ditegakkan oleh jutaan transaksi kecil yang membuat orang-orang biasa dapat terus melanjutkan hidup.

Membeli dari tetangga bukanlah revolusi dan menjaga persatuan memang tidak selalu revolusioner. Pengejawantahan "Persatuan" kadang-kadang hanya dengan membuat orang di sebelah rumah tidak merasa ditinggalkan.

Kemudian kita masuk ke Grup WhatsApp keluarga. Barangkali tidak ada ruang demokrasi yang lebih melelahkan daripada ruang ini.

Di sana semua orang punya suara, mulai dari paman, bibi, sepupu, hingga ipar. Tidak ada meja sidang, tetapi perdebatan bisa berlangsung ala parlemen. Sebuah berita politik dikirim, seseorang membantah, yang lain membagikan tautan, lalu muncul video yang entah dibuat kapan dan oleh siapa.