NADIKABAR.COM — Ada sesuatu yang agak menggelitik setiap kali Hari Kesaktian Pancasila tiba dan selalu dirayakan dengan upacara, lengkap dengan pidato berisi kata-kata "besar", seperti ideologi, persatuan, ancaman, keutuhan, hingga pengkhianatan.
Kita memang punya kebiasaan memperlakukan hal-hal yang diyakini penting secara seremonial. Pancasila pun demikian. Seolah-olah Pancasila adalah benda pusaka yang setiap tahun perlu dikeluarkan dari peti, dibersihkan, lalu diperlihatkan kepada khalayak: "Lihat, masih sakti."
Mengapa sesuatu yang disebut sakti harus tampak begitu sibuk membuktikan kesaktiannya?
Bukankah kesaktian, dalam pengertian tertentu, justru bekerja diam-diam. Air, misalnya, tidak berpidato tentang kemampuannya menghidupkan pohon. Ia hanya mengalir.
Mungkin demikian pula Pancasila. Ia barangkali tidak terlalu membutuhkan upacara. Ia membutuhkan kebiasaan.
Ini terdengar naif. Bahkan, terlalu sederhana untuk metafora sebuah ideologi negara. Tetapi hidup manusia memang sering ditentukan oleh hal-hal yang bahkan terlalu remeh untuk bisa masuk dalam tema pidato-pidato kebangsaan..
Misalnya, seorang tetangga yang dinding rumahnya berdempetan dengan rumah kita, sedang beribadah. Sementara, televisi kita sedang menyala, menampilkan acara lucu yang membuat anak-anak tertawa.
Lalu kita ingat, di sebelah ada orang yang sedang berusaha khusyuk. Volume televisi pun dikecilkan. Hanya itu. Tidak ada yang mencatatnya sebagai toleransi. Kita sendiri mungkin lupa lima menit kemudian.
Toleransi memang sering seperti itu; Toleransi tidak selalu berupa pernyataan indah tentang kerukunan antarumat beragama. Kadang hanya sebuah kesediaan untuk mengurangi suara sendiri. Ada kesadaran sederhana di sini, bahwa dunia tidak hanya terdiri atas suara kita.
Bisa jadi, Sila Pertama bermula dipupuk dari kesadaran yang sesederhana itu, bahwa keyakinan kita tidak perlu mengganggu keberadaan keyakinan orang lain.
Di lain waktu, kita membuka media sosial di ponsel. Di layar, seseorang yang tidak kita kenal mengunggah sesuatu yang memancing amarah.
Jempol bergerak. Kita mengetik sebaris kalimat kasar. Saat membacanya ulang, ada rasa puas, orang itu memang layak mendapatkannya. Namun, pada detik berikutnya, kalimat itu kita hapus.
Apa yang sebenarnya terjadi pada detik itu? Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang mencatatnya sebagai sebuah prestasi. Satu hal yang pasti adalah seseorang, di suatu tempat, batal menerima sebuah penghinaan.
Peradaban manusia sesekali bertahan bukan karena orang-orangnya tahu apa yang harus dikatakan, melainkan karena sebagian dari mereka tahu apa yang sebaiknya tidak dikatakan.
Kita sering menyalahkan media sosial atas melunturnya adab manusia. Ini tidak sepenuhnya benar. Media sosial hanya menyingkap betapa rapuhnya adab saat jarak membuat kita lupa bahwa di balik layar ada manusia lain.
Karena itu, penerapan Sila "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab" bisa menemukan hakikat barunya yang paling sederhana dalam aksi satu jempol yang tidak jadi menekan tombol kirim.
"Persatuan Indonesia" juga memiliki persoalan skala. Kita gemar membicarakan persatuan dalam lingkup besar: negara, wilayah, suku, bahasa, agama, hingga bendera. Semua itu benar. Namun, ada persatuan yang bekerja dalam ukuran yang jauh lebih kecil.
Warung di dekat rumah, misalnya. Kita membeli kopi di sana. Penjualnya adalah tetangga. Uang berpindah tangan. Sebagian nanti dipakai membeli beras, sebagian untuk membayar listrik, sebagian mungkin untuk membeli susu anak, dan besok pagi ia bisa membuka warungnya kembali.
Tak ada yang menganggap secangkir kopi sebagai peristiwa ekonomi nasional. Memang bukan. Namun, sebuah bangsa tak hanya dibangun oleh angka pertumbuhan, gedung pencakar langit, atau perusahaan raksasa. Bangsa juga ditegakkan oleh jutaan transaksi kecil yang membuat orang-orang biasa dapat terus melanjutkan hidup.
Membeli dari tetangga bukanlah revolusi dan menjaga persatuan memang tidak selalu revolusioner. Pengejawantahan "Persatuan" kadang-kadang hanya dengan membuat orang di sebelah rumah tidak merasa ditinggalkan.
Kemudian kita masuk ke Grup WhatsApp keluarga. Barangkali tidak ada ruang demokrasi yang lebih melelahkan daripada ruang ini.
Di sana semua orang punya suara, mulai dari paman, bibi, sepupu, hingga ipar. Tidak ada meja sidang, tetapi perdebatan bisa berlangsung ala parlemen. Sebuah berita politik dikirim, seseorang membantah, yang lain membagikan tautan, lalu muncul video yang entah dibuat kapan dan oleh siapa.