NADIKABAR.COM — Ada sesuatu yang agak menggelitik setiap kali Hari Kesaktian Pancasila tiba dan selalu dirayakan dengan upacara, lengkap dengan pidato berisi kata-kata "besar", seperti ideologi, persatuan, ancaman, keutuhan, hingga pengkhianatan.
Kita memang punya kebiasaan memperlakukan hal-hal yang diyakini penting secara seremonial. Pancasila pun demikian. Seolah-olah Pancasila adalah benda pusaka yang setiap tahun perlu dikeluarkan dari peti, dibersihkan, lalu diperlihatkan kepada khalayak: "Lihat, masih sakti."
Mengapa sesuatu yang disebut sakti harus tampak begitu sibuk membuktikan kesaktiannya?
Bukankah kesaktian, dalam pengertian tertentu, justru bekerja diam-diam. Air, misalnya, tidak berpidato tentang kemampuannya menghidupkan pohon. Ia hanya mengalir.
Mungkin demikian pula Pancasila. Ia barangkali tidak terlalu membutuhkan upacara. Ia membutuhkan kebiasaan.
Ini terdengar naif. Bahkan, terlalu sederhana untuk metafora sebuah ideologi negara. Tetapi hidup manusia memang sering ditentukan oleh hal-hal yang bahkan terlalu remeh untuk bisa masuk dalam tema pidato-pidato kebangsaan..
Misalnya, seorang tetangga yang dinding rumahnya berdempetan dengan rumah kita, sedang beribadah. Sementara, televisi kita sedang menyala, menampilkan acara lucu yang membuat anak-anak tertawa.
Lalu kita ingat, di sebelah ada orang yang sedang berusaha khusyuk. Volume televisi pun dikecilkan. Hanya itu. Tidak ada yang mencatatnya sebagai toleransi. Kita sendiri mungkin lupa lima menit kemudian.