Kondisi inilah yang coba dijawab melalui PISN 2026. Alih-alih membawa rancangan dari luar untuk kemudian dikerjakan perajin, tim pengembang terlebih dahulu memetakan potensi yang telah dimiliki masing-masing workshop.

Lima workshop, yakni Pratama Rotan, Andi Rotan, Arafif Rotan, Cahaya Rotan, dan Workshop Mbah Kacung, dipelajari berdasarkan material, teknik, jenis produk, kemampuan produksi, dan karakter bentuk yang selama ini mereka kembangkan.

Dari proses tersebut, perajin tidak ditempatkan hanya sebagai pelaksana produksi. Mereka terlibat dalam menentukan kemungkinan pengembangan berdasarkan pengalaman yang mereka miliki.

Teknik menganyam, cara membentuk rotan, pemilihan material, konstruksi sambungan, hingga pemahaman terhadap kelenturan material menjadi bagian dari proses perancangan.

Gagasan desain kemudian dikembangkan melalui diskusi, sketsa, referensi visual, pembuatan model, dan eksperimen langsung di workshop.