NADIKABAR.COM — Istilah lazy economy pertama kali populer di China. Hal itu merujuk pada gaya konsumsi yang mengutamakan penghematan waktu dan tenaga lewat layanan antar makanan, robot pembersih rumah, hingga jasa serba otomatis.
Istilah ini lantas menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia, dan kerap disalahpahami sebagai pembenaran untuk bermalas-malasan, seolah kemudahan serba instan adalah tanda melemahnya etos kerja sebuah generasi.
Padahal, orang yang membayar jasa laundry, memesan makanan, atau berlangganan layanan yang menghemat pekerjaan rumah belum tentu malas. Bisa jadi mereka sedang membeli sesuatu yang jauh lebih mahal daripada uang, yaitu waktu.