Jika lazy economy bertanya, bagaimana pekerjaan ini bisa dilakukan lebih mudah, slow living bertanya, setelah pekerjaan itu menjadi lebih mudah, untuk apa waktu yang tersisa digunakan. Irisan keduanya ada pada satu kesadaran: waktu adalah sumber daya yang terbatas dan berharga, dan keduanya sama-sama menolak gagasan bahwa sibuk adalah tanda kehormatan.

Ini bukan sekadar kesan. Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang dirilis Badan Pusat Statistik pada Agustus 2025 menunjukkan 146,54 juta penduduk Indonesia bekerja, dan 67,32 persen di antaranya, atau 98,65 juta orang, tergolong pekerja penuh waktu dengan jam kerja minimal 35 jam seminggu. Bahkan, 25,47 persen pekerja bekerja lebih dari 49 jam seminggu, jauh melampaui batas 40 jam yang diatur peraturan ketenagakerjaan.

Dalam kondisi seperti ini, wajar bila banyak karyawan kantoran rela membayar lebih untuk memesan makan malam lewat aplikasi ketimbang memasak sendiri, memilih tinggal lebih dekat dengan kantor meski sewanya lebih mahal, atau berlangganan jasa bersih-bersih rumah, semata agar tersisa waktu untuk makan malam bersama anak sebelum ia tidur. Bukan karena tidak mampu melakukannya sendiri, tetapi karena mereka menghitung ulang nilai waktunya.