Selain itu, menurut Efnie, perlu pula menawarkan dukungan sesuai kebutuhan dengan menanyakan apakah orang yang sedang menghadapi masalah ingin didengarkan, membutuhkan bantuan untuk mencari solusi, atau memerlukan pendamping untuk mendapatkan pertolongan profesional.
"Tidak semua orang membutuhkan jawaban ketika sedang bercerita. Terkadang, yang paling mereka butuhkan adalah seseorang yang mampu mendengarkan tanpa menghakimi, memahami tanpa membandingkan, dan menemani tanpa memaksa," katanya.
Efnie mengatakan bahwa ada ucapan-ucapan yang sebaiknya tidak disampaikan kepada orang menceritakan masalah kesehatan mentalnya.
Ucapan-ucapan yang perlu dihindari antara lain "terlalu berlebihan", "jangan terlalu dipikirkan", "orang lain masalahnya lebih berat", "kurang bersyukur", "harus kuat, jangan lemah", "sudahlah, berpikir positif saja", atau "Itu cuma ada di pikiran kamu."
Penyampaian ucapan-ucapan semacam itu, menurut Efnie, bisa membuat orang yang sedang menghadapi masalah merasa pengalaman emosionalnya tidak diakui atau dianggap tidak pantas.
"Kalimat-kalimat tersebut mungkin disampaikan dengan maksud baik, tetapi dapat membuat seseorang merasa emosinya disepelekan dan pengalamannya tidak dipahami," katanya.
Akibatnya, dosen di Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha itu melanjutkan, individu yang sedang mengalami masalah kesehatan mental bisa semakin enggan bercerita, merasa sendirian, atau memilih menyembunyikan kondisi.