Modal kepercayaan yang ia bangun tersebut kemudian membuatnya mulai berani untuk merintis brand kecantikan sendiri. Teratu kemudian lahir empat tahun setelah karier konten kreatornya dimulai, yakni pada 2020.
"Jadi enggak tiba-tiba langsung punya branding sendiri. Itu banyak berdampak dari personal branding pribadi, karena sudah ada followers yang mengikuti sejak zaman YouTube," paparnya.
Ketika mulai membangun Teratu pada 2020, Alifah pun tak langsung membuat banyak produk. Ia memilih mengembangkan produk secara bertahap.
"Tidak langsung membuat satu set produk gitu. Lebih mengembangkan satu per satu, dimulai dari mana dulu nih. Baru nanti lanjut ke mana lagi ya," ujarnya.
Kebiasaan Alifah dalam mengulas berbagai produk kecantikan untuk kulit berjerawat pun ia terapkan pada Teratu. Sejak awal, ia terbiasa memperlihatkan penggunaan skincare secara bertahap. Ia tidak memberikan gambaran seolah-olah perubahan kulit bisa terjadi dalam semalam.
"Sharing-nya juga tidak langsung seolah-olah aku langsung sembuh ketika pakai produk ini. Ada prosesnya, dan proses itu selalu diperlihatkan," bebernya.
Menurutnya, ulasan jujur tersebutlah yang menjadi pembeda branding Teratu dengan produk kecantikan pada umumnya. Terlebih, ia sudah memiliki basis audiens yang mempercayainya.
"Setiap proses pemakaiannya itu dikasih lihat, berapa bulan sih sampai jerawatku bisa pudar. Jadi lebih genuine. Mungkin itu yang bikin beda dari brand lain," ujar Alifah.
Menurut Alifah, banyaknya pilihan skincare yang tersedia saat ini juga membuat edukasi kepada konsumen menjadi hal yang tidak kalah penting. Sebab, produk yang memberikan hasil baik pada satu orang belum tentu memberikan hasil serupa pada orang lain.