Selama puluhan tahun, Soleh melakoni pekerjaan apa saja asalkan halal. Menjadi penggarap sawah orang lain, kuli bangunan, hingga menjadi tenaga suruhan warga desa ia jalani tanpa mengeluh. Baginya, setiap tetes keringat adalah jalan rezeki yang sudah digariskan oleh Sang Pencipta. Jika panggilan kerja sedang sepi, ia tak segan membantu istrinya berjualan di rumah demi dapur tetap mengepul.
"Saya kan di sawah. Sehari sampai zuhur Rp20.000 sampai Rp50.000. Kalau ada pekerjaan terkadang sampai sore Rp100.000. Pekerjaan apa saja, misalkan ada yang ngangkut bata, ya ngangkut. Di sawah ya macul-macul, nyangkul. Saya tidak begitu ngobrak-ngabrik uang sih. Hari itu ada uang, saya nikmati. Jadi tidak pernah pinjam ke sana-kemari. Cukup untuk hasil jerih payah saya sama istri, itu saya gunakan." tutur Soleh.
Prinsip hidupnya yang sederhana namun disiplin dalam mengelola keuangan membuatnya mampu menyekolahkan anak-anaknya. Komitmen yang ia bangun sejak awal pernikahan kini membuahkan hasil manis. Anak sulungnya kini telah menyandang gelar Sarjana Komputer dan berkarier di Jakarta, sementara anak keduanya tengah menempuh semester empat di jurusan Ekonomi.
"Saya kan tidak memaksa anak mau ke mana-mana. Terserah anak mau sekolah ke mana, jadi saya turutin anak. Dulu yang pertama sekolah di Cirebon, sekarang jadi Sarjana Komputer. Yang kedua di FKIP jurusan Ekonomi, masih semester 4 sekarang. Alhamdulillah," tutur Soleh.