NADIKABAR.COM — Suriati tak kuasa menahan haru saat mengisahkan momen dirinya mengungsi ke sebuah gereja Katolik di Desa Nangadhero, Kecamatan Aesesa, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Guru ngaji itu merasa diterima dengan baik oleh pengurus gereja saat gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang Pulau Flores, NTT, pada 15 Agustus lalu.

"Kami diterima dengan baik oleh para suster dan romo di Paroki Yesus Karahiman Ilahi Aeramo. Ini sangat luar biasa," tutur Suriati saat ditemui NadiKabar di posko mandiri Desa Nangadhero, Minggu (6/9/2026).

Tak hanya Suriati, sekitar 320 umat muslim lainnya juga mengungsi ke gereja Katolik itu saat gempa dahsyat mengguncang wilayah tersebut. Bagi Suriati, bencana mengajarkan nilai kemanusiaan tanpa memandang latar belakang keyakinan.

"Seandainya kalau tidak ada musibah bencana, mungkin kami tidak tahu suster dan romo itu seperti apa. Kami dirangkul dengan baik," tutur Suriati berlinang air mata.