NADIKABAR.COM — Di tengah area objek wisata Pujangga Manik Batu Luhur, Desa Padabeunghar, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan yang sepi dan terbengkalai, terdapat sebuah warung kopi sederhana yang masih tetap beroperasi. Warung kopi tersebut dikelola oleh warga sekitar yang juga mantan pengelola objek wisata Batu Luhur, Itok (60).
Siang itu, bersama istrinya, Itok tampak sedang duduk di area warung sambil berbincang dengan para petani yang saat itu sedang beristirahat. Itok memaparkan bahwa ia sendiri sudah berjualan di Batu Luhur sejak awal objek wisata tersebut berdiri, yakni sekitar tahun 2015. Kala itu, dengan infrastruktur yang cukup lengkap, mulai dari akses wisata alam hingga area kolam pemandian dan potensi jelajah curug, tempat ini pernah menghidupi puluhan kepala keluarga.
Namun, seiring berjalannya waktu, akibat pandemi COVID-19, meningkatnya persaingan tempat wisata serta serbuan kawanan monyet mengubah kejayaan wisata tersebut menjadi kesunyian. Kondisi tersebut memaksa puluhan pekerja dan pemilik warung lainnya gulung tikar.
"Dulu mah ada banyak warung. Kalau di warung sih paling ya minimal Rp300.000 lah masih dapat per hari. Apalagi kalau Lebaran, banyak yang datang. Sekarang Rp10.000 sehari aja udah untung. Kalau nggak ada pengunjung ya nggak dapat duit. Dulu pekerja ada sekitar 40 orang. Sekarang cuma warung saya. Pekerja pada hilang. Di sini kalau kebutuhannya tidak tercukupi ya nggak mau," tutur Itok.