Meski pendapatan dari warung tak lagi pasti, Itok menolak untuk pergi. Bagi Itok, keberadaannya di kawasan Batu Luhur tidak lagi sebatas mencari keuntungan materi, melainkan ada misi sosial dan lingkungan yang ia emban, yakni menjaga hutan lereng Gunung Ciremai dari kebakaran. Menurutnya, kebakaran di hutan dipicu oleh aktivitas manusia.
"Saya tuh bisa bertahan di sini, ada pengunjung ataupun tidak, minimalnya saya masih menjaga dari kebakaran.Sebetulnya kebanyakan penyebabnya orang-orang aja, karena manusia. Kemarin itu 35 hektar di kawasan TNGC kebakaran. Penanganan paling dua sampai tiga hari sama mop up (pemadaman sisa api). Takutnya ada sekam atau bahan api yang masih ada di bawah," tutur Itok.
Selain menjadi penjaga hutan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Itok juga bekerja sebagai perawat dan penanam pohon di area bekas galian C yang lokasinya berada tidak jauh dari warungnya. Tugas tersebut ia emban usai Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi berkunjung ke lereng Ciremai dan memerintahkan warga sekitar untuk mereboisasi lahan bekas tambang.