NADIKABAR.COM — Ada katak yang memiliki cara berkembang biak sangat tidak biasa. Katak betina menelan telurnya sendiri, menyimpan kecebong di dalam lambung, lalu mengeluarkan anak-anaknya melalui mulut.

Katak dengan kemampuan unik itu kini telah punah. Namun, ilmuwan pernah menemukan cara untuk mengaktifkan kembali materi genetiknya melalui eksperimen yang membuka peluang bagi teknologi de-extinction.

Katak tersebut bernama southern gastric-brooding frog (Rheobatrachus silus), spesies endemik Australia. Ilmuwan menyatakan spesies ini punah setelah individu terakhir yang diketahui mati pada 1983.

Menariknya, sebagian jaringan tubuh Rheobatrachus silus masih tersimpan dalam kondisi beku. Jaringan tersebut kemudian menjadi bahan eksperimen Lazarus Project, sebuah proyek de-extinction yang berupaya menghidupkan kembali spesies punah menggunakan materi genetik yang tersisa.

Dikutip dari IFL Science, Minggu (30/8/2026), Rheobatrachus silus pertama kali dikenal dunia pada 1970-an karena perilaku reproduksinya yang sangat tidak biasa.

Setelah telur dibuahi, katak betina akan menelannya dan menyimpannya di dalam lambung. Telur kemudian berkembang menjadi kecebong hingga berubah menjadi katak kecil.

Selama proses tersebut, sistem pencernaan induknya harus berhenti memproduksi asam lambung agar telur dan anak-anaknya tidak tercerna. Setelah perkembangan selesai, anak-anak katak keluar melalui mulut induknya.

Mekanisme tersebut menjadikan Rheobatrachus silus salah satu contoh ekstrem evolusi perilaku reproduksi pada amfibi. Namun, keberadaan katak ini tidak berlangsung lama setelah ilmuwan menemukannya.

Populasi Rheobatrachus silus menghilang dari habitat alaminya pada awal 1980-an. Individu terakhir yang diketahui kemudian mati dalam penangkaran pada 1983.

Harapan untuk menghidupkan kembali spesies tersebut muncul dari sesuatu yang awalnya mungkin tidak terlihat istimewa, yakni stoples berisi jaringan katak yang tersimpan di dalam freezer.

Beberapa jaringan Rheobatrachus silus dikumpulkan pada 1970-an. Peneliti kemudian menyimpannya selama sekitar 40 tahun dalam freezer biasa.

Temuan mengejutkan muncul ketika peneliti memeriksa kembali jaringan tersebut. Inti sel masih dapat ditemukan dan digunakan dalam eksperimen.

Michael Mahony, salah satu ilmuwan yang terlibat dalam proyek tersebut, menemukan spesimen beku ketika mencari kembali koleksi lama di University of Adelaide.

Dalam wawancara dengan ABC, Mahony menceritakan bahwa jaringan tersebut masih menunjukkan struktur seluler yang cukup baik meski peneliti tidak membekukannya menggunakan teknik kriopreservasi modern.