Salah seorang murid, Yunisha Amatya, 16 tahun, mengatakan ia dan teman-temannya berhasil menyelamatkan diri hanya beberapa saat sebelum banjir menerjang.

"Saya dan teman-teman saya selamat hanya karena selisih sekitar 10 detik," katanya kepada BBC.

"Sesaat sebelum banjir datang, kami sedang belajar di kelas. Para guru berkumpul di satu tempat dan pada awalnya tidak tahu apa yang terjadi. Lima menit kemudian, guru-guru datang dan memberi tahu kami tentang banjir itu serta meminta kami pulang."

Ia mengatakan seorang siswa sempat pingsan setelah mendengar kabar tentang bencana tersebut. Namun, banyak murid pada awalnya meremehkan ancaman yang ada dan memilih menunggu teman-teman sekelas mereka yang sedang mengikuti pelajaran matematika.

Yunisha dan teman-temannya kemudian bergegas menyelamatkan diri dengan mendaki ke area yang lebih tinggi melalui jalur evakuasi di belakang sekolah.

"Saya tidak bisa berjalan cepat, dan teman-teman membantu saya naik ke tempat yang lebih tinggi. Kami berusaha sekuat mungkin mencapai area yang lebih aman. Kami melarikan diri melalui tangga sempit di bagian belakang sekolah. Dalam sekejap, pasar di depan mata saya tersapu banjir," ujarnya, merujuk pada pasar yang berada di sekitar sekolah.

"Kalau sepatu saya tidak memiliki daya cengkeram yang baik, saya mungkin sudah terjatuh. Saat berusaha menyelamatkan diri, para siswa dan warga saling berdesakan untuk mencapai tempat yang aman. Orang-orang yang memilih melarikan diri melalui jalur lain tampaknya terseret arus banjir."

Para siswa dan guru pada awalnya bergerak beberapa ratus meter ke area yang lebih tinggi untuk menyelamatkan diri, sebelum kemudian mengungsi ke sebuah desa tetangga.

Karena jalan-jalan terputus dan transportasi lumpuh akibat banjir, banyak dari mereka terjebak selama dua malam sebelum tim penyelamat berhasil menjangkau lokasi tersebut.

Kepala sekolah Rajendra Dawadi dan Yunisha, yang sama-sama tinggal di seberang sungai dari sekolah, akhirnya diterbangkan dengan helikopter menuju kampung halaman mereka.

Sementara itu, para orang tua dengan cemas berusaha menghubungi anak-anak dan anggota keluarga mereka.

Ibu Yunisha, Sabina Kumari Shrestha, mengatakan ia berulang kali mencoba menelepon putrinya dan suaminya, tetapi tidak satu pun yang dapat dihubungi.

Suaminya, Yubaraj Amatya, segera bergegas menuju sekolah.

"Tak lama setelah kabar banjir menyebar, saya mencoba menelepon putri saya, tetapi tidak bisa terhubung. Saat itu saya mulai merasa takut," katanya.