"Dalam beberapa menit saya langsung menuju sekolah putri saya, tetapi Pasar Trishuli sudah tersapu banjir. Saat itu saya mengira putri saya sudah tidak ada. Saya sangat terpukul. Saya menghentikan sepeda motor saya. Meski banjir sedang terjadi, saya tidak bisa membayangkan pulang tanpa putri saya."
Selama hampir satu jam, ia tidak mengetahui apakah putrinya masih hidup. Ia terus menelepon tanpa hasil hingga akhirnya panggilannya tersambung dan Yunisha menjawab.
"Ketika akhirnya putri saya mengangkat telepon, saya tidak bisa menahan diri dan langsung menangis. Dua kerabat yang bersama saya juga ikut menangis dan memeluk saya," ujarnya.
Yunisha tampak menahan air mata saat mengenang momen tersebut.
"Setelah saya berhasil mencapai puncak bukit, saya menerima telepon dari ayah saya. Beliau menangis, dan saat itu saya tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun," katanya.
Di rumah, keluarganya menunggu kepulangannya dengan penuh kecemasan.
"Bahkan adik perempuan Yunisha tidak bisa tidur. Tetapi saya sangat lega dan bahagia ketika melihatnya kembali setelah tiga hari, pada Jumat," kata ibunya.
Kini, Yunisha mengaku mulai memikirkan masa depannya.
"Sekarang saya khawatir tentang kelanjutan pendidikan saya," ujarnya.
"Jika saya harus pindah sekolah, saya akan kehilangan teman-teman lama dan harus menghadapi kesulitan untuk mendapatkan teman baru. Saya sedih memikirkan masa depan pendidikan saya."
Sementara itu, Dawadi mengatakan sistem peringatan dini yang lebih baik, termasuk sirene dan peringatan evakuasi, dapat membantu warga merespons lebih cepat ketika bencana terjadi.
Namun, ia meyakini keputusan untuk segera bertindak telah mencegah tragedi yang jauh lebih besar.
"Seandainya saya memutuskan menutup sekolah setelah jam pelajaran berakhir, mungkin tidak akan ada yang tersisa. Yang terdengar pada pukul 09.30 hanyalah bunyi bel sekolah," katanya
Lihat Video 'Duka Warga Nepal saat Kembali ke Rumah Mengais Sisa Kehidupan':