NADIKABAR.COM — Ada kisah mendalam di balik batang kayu yang setiap tahun diangkat dari sebuah balong keramat di Desa Kertawinangun, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon. Batang kayu yang tersohor dengan sebutan Buyut Kayu Perbatang itu kembali diangkat hari ini, Rabu (2/9/2026), dalam sebuah tradisi sakral yang digelar setiap 19 Mulud.

Tradisi ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Di baliknya, tersimpan riwayat tentang kemarau panjang dan pencarian sumber air yang diyakini menjadi asal-usul keberadaan Balong Keramat Pangeran Mancur Jaya.

Warga tampak menyemut di sekitar balong untuk menyaksikan langsung prosesi pengangkatan Buyut Kayu Perbatang. Bagi masyarakat setempat, kayu tersebut bukan sekadar benda mati, melainkan simbol sejarah yang memiliki kaitan erat dengan sosok Pangeran Cakrabuana.

Sejarawan Cirebon, Mustaqim Asteja, sempat menceritakan kisah yang dipercaya menjadi awal mula keberadaan balong tersebut. Menurutnya, lokasi itu dulunya merupakan sumber air yang ditemukan oleh Pangeran Mancur Jaya saat Cirebon dilanda kekeringan hebat.

Dalam kondisi krisis tersebut, Pangeran Mancur Jaya mendapat mandat dari Kesultanan untuk mencari sumber mata air demi kelangsungan hidup rakyat.

"Setelah mencari ke beberapa tempat, akhirnya sampailah Pangeran Mancur Jaya ke tempat yang dulu pernah disinggahi oleh Pangeran Cakrabuana. Di situ ada sebuah pohon yang tadinya pada jaman Pangeran Cakrabuana masih tumbuh, tapi ketika itu karena kemarau panjang pohon tersebut sudah berubah menjadi sebatang kayu," kata Mustaqim.

"Pangeran Mancur Jaya pun singgah dan duduk di batang kayu tersebut. Saat sedang duduk dia melihat di balik kayu tersebut ada rembesan air. Dengan niat yang baik untuk mencari sumber, Pangeran Mancur Jaya kemudian menutugkan (menghentakkan) batang kayu itu ke tanah yang mengeluarkan rembesan air. Saat itu keluarlah air memancar yang sangat deras," kata dia menambahkan.

Fragmen sejarah itulah yang terus dirawat melalui tradisi pengangkatan Buyut Kayu Perbatang di Balong Keramat Pangeran Mancur Jaya hingga saat ini.

Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, Judi Wahjudin, menilai kisah pencarian sumber air tersebut masih sangat relevan dengan kondisi zaman sekarang.

Terlebih, menurut Judi, saat ini banyak daerah yang masih bergelut dengan persoalan kekeringan. Tradisi ini seharusnya menjadi pengingat kolektif bagi masyarakat untuk menjaga kelestarian air dan lingkungan.