Bagi Dewi, kondisi Abdul tidak menghapus hubungan darah di tim redaksi mereka. Seberat apa pun keadaan yang harus dihadapi, Abdul tetaplah adiknya.

Karena itu, harapan Dewi pun sebenarnya sederhana, ia ingin Abdul sembuh. Ia ingin ada seseorang yang bisa mengobati dan membantu memulihkan kondisi adiknya.

Harapan tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun bagi keluarga yang telah bertahun-tahun menjalani kehidupan bersama persoalan kesehatan mental, harapan itu menjadi sesuatu yang sangat berarti.

Kisah Abdul bukan sekadar tentang sebuah rumah yang runtuh atau seorang lelaki yang dirantai. Di baliknya ada cerita tentang keluarga yang bertahan dalam keterbatasan, tentang seorang kakak yang memilih untuk tidak menyerah, dan tentang manusia yang tetap membutuhkan perhatian meski sebagian hidupnya telah terasing dari dunia luar.

Dua puluh tahun adalah waktu yang panjang. Selama waktu itu, Abdul mungkin kehilangan banyak hal: kebebasan, kesempatan berinteraksi dengan lingkungan, dan kehidupan yang barangkali bisa dijalaninya seperti orang lain.

Namun satu hal tampaknya belum hilang. Kepedulian keluarganya. Di tengah rumah yang semakin rapuh, Dewi tetap datang membawa makanan, membawa minuman, merawat dan menjaga Abdul.

Sebab bagi Dewi, ketika orang tua telah tiada dan tidak ada lagi yang mengurus, keluarga adalah tempat terakhir untuk berharap.

Dan selama masih ada harapan untuk sembuh, ia memilih untuk tetap bertahan. "Saya ingin adik saya sembuh. Mungkin susah tapi saya yakin," pungkasnya.