NADIKABAR.COM — Perjuangan Ressa Fitri Anisa (26), warga Blok Dukuh Maja, Desa Weragati, Kecamatan Palasah, Kabupaten Majalengka, tak mudah. Sejak mengalami patah kaki, aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga semakin terbatas.
Ressa mengalami kecelakaan pada Februari lalu. Ia terjatuh saat keluar dari kamar mandi, tak lama setelah melahirkan anaknya. Akibat kejadian itu, kaki Ressa harus dipasangi pen dan kini ia masih berjalan menggunakan tongkat.
"Saya ibu rumah tangga. Nggak kerja karena kaki saya patah. Nggak bisa jalan. Jatuh bulan Februari, pas keluar dari kamar mandi. Setelah melahirkan," kata Ressa kepada NadiKabar, Kamis (3/9/2026).
Sebelum menikah, Ressa bekerja di sebuah pabrik. Namun setelah berkeluarga, ia memilih menjadi ibu rumah tangga. Sementara suaminya bekerja sebagai buruh harian di Bogor.
Pekerjaan sang suami pun tak memberikan penghasilan tetap. Dalam kondisi tersebut, Ressa harus mengatur kebutuhan keluarga dari uang yang dikirim suaminya.
"Penghasilan suami nggak tentu, paling rata-rata saya suka dikirim sama suami Rp300 ribu seminggu. Dikasih sama suami Rp300 ribu seminggu itu buat beli susu sama pampers, selebihnya buat saya gitu. Ya alhamdulilah disyukuri," ujarnya.
Untuk kebutuhan makan sehari-hari, terkadang Ressa masih mendapat bantuan dari ibunya. Sang ibu tidak memiliki pekerjaan tetap dan hanya sesekali mendapat panggilan untuk memijat.
"Itu kalau biaya makan dari Emak. Dikasih sama Emak," tuturnya.
Di tengah keterbatasan tersebut, Ressa juga harus merawat buah hatinya, MZA yang kini berusia 17 bulan. MZA lahir dengan kondisi tidak memiliki bola mata.
Ressa mengatakan, kondisi tersebut tidak diketahui saat masih dalam kandungan. Berdasarkan pemeriksaan USG, MZA diketahui merupakan bayi kembar. Namun, saudara kembarnya meninggal dunia di dalam kandungan.
"Dari USG mah belum ketahuan. Dari USG mah kembar, cuma yang satunya meninggal pas di dalam kandungan karena prematur. Yang satunya alhamdulillah, tapi ya gitu keadaannya, fisiknya," ungkap Ressa.
Kini, perkembangan MZA juga masih tertinggal dibandingkan anak seusianya. Bocah tersebut belum bisa duduk sendiri dan belum dapat berjalan. Ia hanya sudah mulai bisa merayap, meski belum mampu melakukannya dalam waktu lama.
"Sekarang si Dede belum bisa duduk, ngerayap bisa cuma nggak bisa lama, belum bisa jalan juga," katanya.
Ressa dan keluarga tak tinggal diam. Pemeriksaan untuk mengetahui kondisi mata MZA telah dilakukan di Rumah Sakit Mata Cicendo, Bandung, sebanyak dua kali.
Menurut Ressa, dokter menyampaikan MZA masih ada harapan melihat jika mendapatkan donor mata. Namun, tindakan tersebut disebut baru memungkinkan ketika usianya sekitar 5 tahun karena kondisi tubuhnya dinilai belum cukup kuat saat ini.
"Kalau kata dokternya masih bisa didonor mata. Kata dokternya bisa dapat donor itu di usia 5 tahun. Khawatirnya sekarang belum kuat katanya," ucapnya.
Harapan terbesar Ressa kini adalah MZA bisa mendapatkan donor sehingga suatu hari nanti dapat melihat.
"Ya kami keluarga penginnya ada yang donor mata. Biar anak saya bisa melihat lagi," ujarnya.
Perjuangan itu tentu membutuhkan biaya. Setiap kali membawa MZA ke Bandung, Ressa mengaku harus menyiapkan sekitar Rp1,5 juta untuk biaya operasional. Sementara pemeriksaan medisnya sendiri ditanggung BPJS.
"Setiap periksa ke Cicendo Rp1,5 juta mah ngeluarin. Berat ngeluarin operasionalnya. Pemeriksaan mah gratis. BPJS-nya alhamdulillah gratis," kata Ressa.
Ressa dan anaknya tercatat sebagai penerima BPJS PBI sejak awal. Untuk pemeriksaan rutin, keluarga juga mengandalkan pelayanan dari puskesmas yang datang memeriksa kondisi MZA.
"Kalau pemeriksaan rutin mah nggak ada. Paling dari puskesmas rutin sering ke sini periksa kesehatan si Dede," tuturnya.
Di tengah kondisi ekonomi yang serba terbatas, Ressa juga mengaku bingung dengan status data kesejahteraannya. Ia mengetahui dirinya masuk desil 8 setelah dicek dari handphone.
"Tapi nggak tahu kenapa saya masuk ke desil 8. Jarang ngecek. Nggak tahu dari kapannya. Saya juga tahu pas kemarin ngecek di HP," ungkapnya.
Ressa berharap kondisi tersebut bisa mendapat perhatian. Ia ingin memperoleh bantuan untuk meringankan beban keluarganya, terutama dalam merawat dan memenuhi kebutuhan anaknya.
"Ya harapannya desil bisa turun, supaya saya dapat bantuan juga," pungkas Ressa.