NADIKABAR.COM — Siapa sangka, seorang mahasiswa jurusan sejarah yang belajar peretasan secara otodidak mampu mengguncang industri sepak bola dunia.
Sosok tersebut adalah Rui Pinto, peretas di balik situs fenomenal Football Leaks yang berulang kali membongkar rahasia paling kelam milik para pemain bintang, agen, hingga klub raksasa Eropa.
Petualangan Rui Pinto bermula pada tahun 2015. Menggunakan nama samaran John, pria asal Portugal yang saat itu tengah mengenyam pendidikan di Budapest tersebut mulai membocorkan puluhan juta dokumen rahasia ke dunia maya.
Aksinya tercatat sebagai peretasan paling berpengaruh dalam sejarah olahraga:
Di antara jutaan dokumen yang diunduh Pinto, bocoran email internal Manchester City yang dipublikasikan media Jerman Der Spiegel pada 2018 menjadi karya terbesarnya yang paling berdampak sistemik.
Bocoran peretasan tersebut menjadi pintu masuk pengusutan panjang bagi The Cityzens:
Ironisnya, keberhasilan Pinto membongkar skandal keuangan Manchester City justru mengancam keselamatan jiwanya. Hanya selang beberapa jam setelah vonis bersalah Man City diumumkan pada 30 September 2026, Komisi Perlindungan Saksi Portugal secara mengejutkan menghentikan seluruh pengawalan polisi dan fasilitas rumah aman bagi Pinto terhitung mulai 10 Oktober 2026.
Menghadapi gelombang ancaman pembunuhan (death threats) dan risiko pembunuhan berencana dari pihak-pihak yang dirugikan, Pinto kini menggalang dana sebesar 3 juta euro (sekitar Rp 51,5 miliar) via GoFundMe untuk membiayai pelariannya ke lokasi rahasia serta menyewa tim keamanan swasta independen.
"Hanya beberapa jam setelah putusan resmi kesalahan Manchester City, pemerintah secara sengaja menempatkan saya dalam situasi yang mengancam jiwa dengan mencabut perlindungan saksi. Saya tidak punya pilihan selain berpindah ke lokasi rahasia. Namun satu hal yang pasti: perjuangan membongkar kecurangan ini tidak akan berhenti," tegas Rui Pinto.
Meski otoritas Portugal membantah pencabutan ini terkait langsung dengan kasus Manchester City, Pinto meyakini ada tekanan besar di balik pencabutan hak perlindungan hukumnya tersebut, demikian dikutip NadiKabar dari Dailysports, Rabu (7/10/2026).