Sulaiman AS punya seratus istri, demikian Ibnu Katsir mulai menguraikan riwayat ini dalam kitab tafsirnya. Tetapi, dari seratus perempuan itu, hanya satu yang paling Sulaiman AS percaya. Yakni, istrinya yang bernama Jaradah.

Dalam hal apa Jaradah paling bisa dipercaya? Di antaranya, untuk menjaga cincin yang menjadi tanda raja, yang dengan cincin itu, Sulaiman memimpin di singgasananya.

Suatu saat, Sulaiman akan pergi ke toilet. Cincin itu dilepaskannya, lalu dititipkan kepada Jaradah. Kesempatan ini digunakan setan untuk mengelabui Jaradah. Lantas, Setan 'ngabungkeuleuk' (berwujud) dalam wujud Sulaiman.

Setan berwujud Sulaiman itu kemudian meminta cincin tanda raja kepada Jaradah lalu mengenakannya. Dia lantas duduk di singgasana dan menetapkan hukum serta kebijakan untuk manusia dan jin.

Di sisi lain, Sulaiman AS keluar dari toilet lalu menghampiri Jaradah dan meminta cincin yang tadi dititipkannya. Jaradah kaget, bukannya Sulaiman telah memintanya tadi? Sulaiman lalu mengecek singgasananya, di sana sudah duduk Sulaiman yang lain.

Ibnu Katsir melanjutkan riwayat itu. Ketika Setan memimpin di singgasana Sulaiman, dia memutuskan persoalan-persoalan secara ngaco. Tidak ada contoh kasus yang dituliskan Ibnu Katsir, tetapi jelas kejadian ini memicu gejolak.

Para tetua dan para ahli agama di zaman itu berempug untuk merespons situasi terkini. Postulat yang mencuat: Yang sedang duduk di singgasana itu bukan Sulaiman. Postulat lainnya: Kalau benar itu Sulaiman, Sulaiman telah kehilangan akalnya.

Selama 40 hari berlangsung, seluruh rakyat di kerajaan dihadapkan pada hukum-hukum yang ngaco. Kejengkelan para tetua dan para ahli agama memuncak dengan tragedi pengepungan Sulaiman palsu.