NADIKABAR.COM — Tim Riset Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) menilai industri energi baru terbarukan (EBT) termasuk panas bumi masih memiliki prospek yang cukup baik di tengah tekanan pasar saham Indonesia saat ini.

"Tim Riset KISI menilai positif prospek industri panas bumi nasional," sebut Tim Riset Kisi dalam keterangan bersama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) di Jakarta, Rabu.

Terkait pergerakan saham PGEO, Tim Riset KISI mencatat sejumlah faktor yang perlu dicermati investor. Katalis utama adalah revisi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 112 Tahun 2022 mengenai tarif listrik energi terbarukan yang hingga kini belum terbit.

Faktor lainnya meliputi eksekusi proyek, termasuk pengembangan panas bumi Hululais dan proyek co-generation berkapasitas 45 megawatt (MW). Investor juga perlu mencermati porsi saham publik (free float) sebesar 3,9 persen yang wajib dinaikkan secara bertahap, serta pergerakan suku bunga dan nilai tukar rupiah.

Di sisi lain, pendapatan PGEO yang berbasis dolar AS dan terkontrak menjadi penopang di tengah volatilitas pasar.

"Untuk PGEO, sekitar 96 persen pendapatan terkontrak dengan PLN selama 30 tahun dengan skema take-or-pay 69-90 persen. Artinya, arus kas tidak ikut turun saat indeks jatuh," kata tim riset KISI.

Dari sisi kinerja, laporan keuangan kuartal II 2026 mencatat PGE membukukan pendapatan 235,027 juta dolar AS pada semester I 2026, naik 14,7 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Laba bersih tercatat 79,605 juta dolar AS, tumbuh 15,48 persen yoy.

Sepanjang Januari hingga September 2026, produksi listrik panas bumi PGE mencapai sekitar 4.114 gigawatt hour (GWh), naik 9,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Equivalent availability factor (EAF) kumulatif mencapai 98,51 persen per September 2026, melebihi rencana sebesar 92,20 persen.

Dari sisi neraca, ekuitas perusahaan tercatat 2,006 miliar dolar AS serta kas dan setara kas 656,6 juta dolar AS per Juni 2026.

Untuk menilai prospek jangka panjang perusahaan panas bumi, Tim Riset KISI menyarankan investor memperhatikan beberapa indikator.

Indikator tersebut meliputi kapasitas terpasang, capacity factor, struktur kontrak dan tarif, margin EBITDA, serta leverage. Pada semester I 2026, PGE mengelola kapasitas 727 MW secara mandiri, dengan margin EBITDA 78,3 persen dan rasio net debt terhadap EBITDA 0,1 kali.

Secara keseluruhan, Tim Riset KISI menekankan pentingnya pendekatan investasi yang menimbang kinerja keuangan, kinerja operasional, strategi bisnis, dan prospek industri secara menyeluruh.