NADIKABAR.COM — Komisi XIII DPR memerintahkan pembongkaran klaster mewah di Lapas kelas II A Cibinong. Barang-barang di dalam klaster mewah pun mulai diangkut keluar.

Pantauan NadiKabar, Rabu (30/9/2026), barang-barang di dalam klaster mewah mulai diangkut sejak pukul 12.00 WIB. Ada sejumlah barang yang diangkut mulai dari TV ukuran besar, kasur, kulkas, hingga AC.

Barang-barang tersebut diangkut ke atas truk. Kemudian, sekitar pukul 12.30 WIB truk yang sudah penuh barang meninggalkan lokasi.

Wakil Ketua Komisi III DPR Andreas Hugo Pareira turut menyaksikan proses angkut barang ini. Dia mendengar barang-barang akan dibawa ke rupbasan atau Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara.

Sebelumnya, Komisi XIII DPR mengambil keputusan setelah melakukan inspeksi di klaster mewah Lapas kelas II A Cibinong. Komisi XIII DPR meminta agar klaster mewah yang ada dibongkar hari ini.

"Komisi XIII DPR RI mendesak pembongkaran bangunan yang berada di Lapas Kelas IIA Cibinong dan seluruh lapas yang ada di Indonesia serta penertiban aset dan fasilitas di lingkungan lembaga pemasyarakatan yang tidak sesuai dengan ketentuan dan peruntukan guna menjamin perlakuan yang adil tanpa diskriminasi bagi seluruh warga binaan," kata Wakil Ketua Komisi XIII DPR Sugiat Santoso saat konferensi pers di lokasi, Rabu (30/9/2026).

Sugiat mengatakan ada 10 bangunan yang menyalahi aturan karena berada di bantaran sungai. Selain itu, bangunan bangunan itu tidak sesuai peruntukannya.

"Dari 13 bangunan itu ada 10 bangunan yang di luar aset Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Dan berdasarkan informasi dari Pak Dirjen kemarin itu lokasinya di bantaran sungai ya, Pak ya? Sudah tidak bagian dari aset, dibangun di bantaran sungai tidak sesuai," ucap dia.

Atas dasar itu lah, Sugiat meminta klaster mewah tersebut dibongkar hari ini juga. Dia tidak mau bangunan itu nantinya jadi disalahgunakan kembali.

"Kita berharap hari ini juga itu dibongkar. Karena supaya apa ya, tidak disalahgunakan lagi atau nanti jangan-jangan ketika kita sudah pulang dari sini malah dibiarkan seperti itu, menjadi persoalan-persoalan di kemudian hari. Jadi ini yang ingin kami maksimalkan dalam kunjungan kerja ini," tegas dia.