NADIKABAR.COM — Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) menilai pariwisata halal (halal tourism) Indonesia harus bertransformasi melalui pendekatan atau fokus kepada peningkatan pengalaman wisatawan dan rantai nilai ekonomi.
Direktur Bisnis dan Kewirausahaan Syariah merangkap Direktur Industri Produk Halal KNEKS Putu Rahwidhiyasa menilai potensi industri ini perlu dikembangkan melalui keterhubungan antara produk halal, layanan pariwisata, dan kebutuhan wisatawan Muslim.
“Keterhubungan ini diharapkan dapat membuka peluang pasar yang lebih luas bagi pelaku usaha lokal, termasuk UMKM yang bergerak di bidang kuliner, kerajinan, dan berbagai layanan pendukung perjalanan,” kata Putu dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.
Ia mengatakan, pengembangan wisata halal atau pariwisata ramah Muslim di Indonesia diharapkan bukan sekadar pemenuhan regulasi dan sertifikasi, namun harus diarahkan menuju pengalaman wisata yang terintegrasi dengan gaya hidup Muslim modern.
Sementara itu, CEO Meraya Coki Lubis menekankan bahwa pengembangan halal tourism tidak cukup hanya mengandalkan promosi destinasi untuk membangun kesadaran publik (awareness).
“Destinasi yang indah belum tentu dikenal, yang dikenal belum tentu dikunjungi, dan yang dikunjungi belum tentu memberikan dampak ekonomi yang merata. Karena itu, kita perlu menghubungkan potensi destinasi dengan pasar, sekaligus memastikan masyarakat lokal menjadi bagian dari rantai nilai pariwisata,” ujar Coki.
Coki juga menekankan pentingnya pendekatan bottom-up dalam membangun ekosistem wisata.
Menurutnya, masyarakat di sekitar destinasi perlu dilibatkan sejak tahap perencanaan dan pengembangan, bukan sekadar menjadi penerima manfaat setelah program berjalan.
“Ekosistem pariwisata yang kuat harus tumbuh bersama masyarakatnya. Ketika warga merasa memiliki destinasi, memahami peluang ekonominya, dan terlibat langsung dalam pengelolaannya, akan terbentuk sense of belonging yang penting bagi keberlanjutan industri,” katanya.
Pendekatan tersebut dapat diwujudkan dengan menghubungkan UMKM, pengelola homestay, pemandu lokal, pengrajin, penyedia kuliner halal, dan komunitas setempat ke dalam paket perjalanan serta jaringan distribusi industri pariwisata.
“Dengan demikian, wisatawan tidak hanya memperoleh pengalaman yang lebih utuh, tetapi juga berkontribusi terhadap perputaran ekonomi lokal,” kata dia.
Di sisi lain, pengembangan wisata halal salah satunya didorong melalui ajang Indonesia Muslim Travel Fair (IMTF) 2027 yang dijadwalkan berlangsung pada 23–24 Januari 2027 di ICE BSD City, Tangerang, Banten.