NADIKABAR.COM β€” Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) merilis hasil investigasi kecelakaan bus ALS dengan truk tangki BBM di Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, yang menewaskan 19 orang. Dalam laporan ini, KNKT mengungkap penyebab kecelakaan menjadi sangat mematikan.

Dilihat NadiKabar, Rabu (30/9/2026), kecelakaan ini melibatkan dua kendaraan, yakni bus PO Antar Lintas Sumatera (ALS) dengan truk tangki yang mengangkut 8.000 liter minyak mentah. Kecelakaan terjadi saat bus melintas di jalanan yang berdelaminasi alias terkelupas.

Berikut riwayat perjalanan bus ASL dan kronologi kecelakaan dengan truk BBM:

Pukul 15.00 WIB: Bus ALS pelat BK-7451-DL diawaki dua sopir dan dua pembantu sopir memulai perjalanan dari Pati, Jawa Tengah, menuju Medan, Sumatera Utara

Pukul 09.00 WIB: Bus menyeberang dari Pelabuhan Merak, BantenPukul 12.00 WIB: Bus tiba di Pelabuhan Bakauheni, Lampung, dan melanjutkan perjalanan ke Terminal Rajabasa, Bandar Lampung. Bus singgah di beberapa agen untuk naik turun penumpang dan beristirahat hingga jelang tengah malam.

05.00 WIB: Bus lanjut berjalan hingga tiba di Simpang Meo, Sumatera Selatan10.00 WIB: Bus berhenti untuk perbaikan sistem pendingin mesin11.45 WIB: Bus lanjut berjalan dan berhenti di salah satu halte di Musi Rawas Utara (Muratara) untuk menurunkan penumpang, menyerahkan paket dan pergantian sopir12.39 WIB: Bus melintasi jalur berdelaminasi (terkelupas), kehilangan kendali, masuk jalur berlawanan lalu menabrak truk tangki pengangkut minyak mentah dengan nopol BG-8196-QB.

KNKT menyebut kecelakaan ini mengakibatkan 17 orang meninggal dunia di lokasi kejadian. Korban tewas terdiri dari tiga awak bus, 12 penumpang bus, dan dua awak truk tangki.

Beberapa hari usai kejadian, dua orang penumpang bus yang sempat mendapatkan perawatan intensif di RS Bhayangkara Palembang dilaporkan meninggal dunia. Sehingga, total keseluruhan korban jiwa dalam peristiwa ini mencapai 19 orang.

KNKT menguraikan 22 poin temuan terkait kecelakaan ini. KNKT menyebut kecelakaan di Jalinsum, Karang Jaya, Muratara, itu terjadi saat kondisi cuaca cerah.

KNKT menyebut ada perbedaan antara pelat yang ditemukan di badan bus ALS dengan nomor pada STNK. Kecepatan bus diperkirakan 60 Km/jam.

KNKT tidak menemukan jejak pengereman di lokasi kejadian. Berikutnya, KNKT menyebut jalan di lokasi terdiri dari dua lajur tanpa median dan terdapat beberapa delaminasi di sekitar TKP yang sudah ada sebelum kecelakaan.

KNKT juga menyebut sebagian besar rambu peringatan lubang masih bersifat sementara. KNKT menyatakan setelah benturan keras terjadi, muncul letupan api di sisi kanan bus.

Asap pekat kemudian memenuhi kabin dan menghalangi pandangan. Tak lama kemudian, kata KNKT, ledakan besar terjadi.

"Beberapa korban tidak dapat keluar melalui pintu karena pintu terhalang tumpukan kayu mebel, sepeda motor, dan buah-buahan, sehingga evakuasi melalui jendela menjadi satu‑satunya jalan bagi beberapa orang," ujar KNKT.

1. Manuver tanpa pengereman: Pengemudi mobil bus tiga kali menghindari delaminasi tanpa mengurangi kecepatan, sehingga pada manuver ketiga bus masuk ke jalur lawan;

2. Kecepatan mobil bus sesaat sebelum tabrakan sekitar 60 km/jam saat menghindari delaminasi pada jalan;

3. Kelelahan pengemudi: Sistem pergantian awak hanya dilakukan bila merasa lelah/mengantuk, bukan berdasarkan jadwal yang disusun sesuai aturan waktu istirahat pengemudi;

4. Beberapa delaminasi di permukaan jalan.

Kombinasi dari dua hazard yang serius, antara lain:

Manuver berulang untuk menghindari delaminasi tanpa pengereman dalam kecepatan sekitar 60 km/jam, sehingga pada manuver ketiga bus masuk ke jalur lawan. Kondisi Prasarana Jalan: Beberapa delaminasi aspal di ruas jalan di sekitar titik terjadinya tabrakan

Bus membawa muatan barang di kabin penumpang yang terdiri dari sepeda motor, kayu mebel, buah-buahan. Barang-barang itu tidak ditata dengan semestinya sehingga menghalangi pintu evakuasi dan memperparah dampak pasca-tabrakan.

Mobil tangki membawa muatan berbahaya berupa Β±8.000 liter crude oil sehingga akibat benturan segera memicu ledakan dan kebakaran besar.