NADIKABAR.COM β Ketua Umum Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Dani Setiawan menilai penguatan rantai dingin (cold chain) secara terintegrasi dapat membantu menjaga mutu hasil tangkapan, sekaligus mendukung stabilitas harga ikan di tingkat nelayan.
Dani menyebut rantai dingin menjadi salah satu prasyarat penting untuk meningkatkan daya saing sektor perikanan nasional, terutama jika fasilitas tersebut dapat diakses oleh nelayan skala kecil.
βKeberadaan rantai dingin yang terintegrasi, mulai dari titik pendaratan hingga distribusi, berdampak pada terjaganya mutu ikan, stabilnya harga di tingkat nelayan, hingga terbentuknya cadangan pangan perikanan yang strategis bagi negara,β kata Dani kepada NadiKabar di Jakarta, Senin.
Menurut Dani, manfaat tersebut dapat semakin besar apabila penguatan rantai dingin berjalan beriringan dengan peningkatan nilai tambah produk perikanan melalui hilirisasi, standardisasi mutu, serta dukungan terhadap biaya logistik.
Namun, penguatan cold chain masih menghadapi tantangan berupa ketimpangan distribusi fasilitas dan akses nelayan kecil. Dani mengatakan berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Indonesia saat ini memiliki 2.287 unit cold storage dengan kapasitas total mencapai 899.178 ton.
Kapasitas tersebut perlu diikuti dengan pemerataan lokasi fasilitas. Sebab, sebagian besar gudang beku masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, sementara wilayah Sumatera dan kawasan timur Indonesia yang menjadi sentra perikanan tangkap masih menghadapi keterbatasan fasilitas rantai dingin.
Kondisi tersebut membuat keberadaan cold storage di pelabuhan perikanan belum otomatis memberikan manfaat yang optimal bagi nelayan kecil.
Dani mengatakan, sebagian nelayan skala kecil tidak mendaratkan hasil tangkapannya di pelabuhan perikanan berskala besar, sehingga fasilitas yang tersedia lebih banyak dimanfaatkan kapal besar, industri, maupun pedagang atau pengumpul dengan kapasitas usaha lebih besar.
Karena itu, KNTI menekankan bahwa pembangunan cold chain perlu melihat akses nelayan terhadap keseluruhan ekosistem, bukan hanya menambah kapasitas penyimpanan.
βMasalah terbesar yang dihadapi nelayan kecil adalah infrastruktur rantai dingin itu sendiri, baik ketersediaan maupun keterjangkauannya. Pembangunan infrastruktur ini pun tidak dapat berdiri sendiri. Ia harus dibarengi dengan ketersediaan pasokan listrik dan energi, pasokan bahan bakar, serta infrastruktur pelabuhan perikanan yang memadai,β kata Dani.
Ia mengatakan ekosistem tersebut mencakup ketersediaan es, listrik dan energi, bahan bakar, transportasi, infrastruktur pelabuhan, hingga akses pasar. Penguatan kelembagaan ekonomi nelayan seperti koperasi juga dinilai penting agar fasilitas yang dibangun dapat dimanfaatkan secara optimal.
Dia menilai rantai dingin yang terintegrasi pada akhirnya dapat mendukung peningkatan kesejahteraan nelayan, khususnya nelayan skala kecil, melalui terjaganya kualitas hasil tangkapan, distribusi yang lebih baik, dan penguatan nilai ekonomi produk perikanan.
Penguatan infrastruktur rantai dingin juga menjadi bagian penting untuk meningkatkan daya saing hasil produksi perikanan Indonesia yang disebut mencapai 12,66 juta ton, dan memperluas manfaat ekonomi sektor tersebut bagi masyarakat pesisir.