NADIKABAR.COM — Mantan presiden Serbia Aleksandar Vucic mengakui kekalahan dalam pemilihan legislatif Serbia, Ahad, menyusul proyeksi awal hasil pemilu yang menunjukkan koalisi oposisi yang didukung mahasiswa berhasil meraup jumlah kursi terbanyak.
Dalam pernyataannya di markas Partai Progresif Serbia (SNS) di Beograd, Vucic mengakui kekalahan partainya dalam pemilu berdasarkan hasil awal.
"Kita masih belum mendapat hasil pastinya. Banyak yang akan kaget, dan kalian akan menyadari siapa saja yang berbohong. Menurut sampel berjenjang, sudah jelas bahwa kita kalah dalam pemilu kali ini," katanya.
Vucic menyebut koalisi mahasiswa diperkirakan menguasai 135 hingga 140 kursi di Majelis Nasional Serbia yang beranggotakan 250 orang, sementara koalisi "Serbia Bersatu" pimpinannya hanya akan meraup 105 kursi.
Ia lantas menuding adanya intervensi asing terhadap politik Serbia yang memengaruhi hasil pemilu. Ia juga mengeklaim intervensi negara-negara Eropa dan "negara-dalam-negara yang didukung Amerika" sebagai sebab kekalahannya.
Menurut hasil awal oleh lembaga survei Ipsos dan Center for Free Elections and Democracy (CeSID), koalisi "Mahasiswa Menang" mendapat 52 persen suara dan koalisi "Serbia Bersatu" pimpinan Vucic hanya meraih 39,3 persen.
Adapun koalisi "Faktor Stablitas" pimpinan Ivica Dacic dari Partai Sosialis hanya mendapat 2,3 suara, berdasarkan proyeksi dari 56 persen sampel yang sudah diolah.
Proyeksi hasil oleh organisasi pengamat pemilu CRTA menunjukkan hasil serupa, dengan koalisi mahasiswa mendapat 51,47 persen suara dan koalisi Vucic hanya meraup 40,42 persen.
Namun demikian, angka tersebut hanya merupakan hasil awal karena hasil akhir pemilu akan ditetapkan Komisi Pemilihan Umum Republik Serbia.
Hasil pemilihan legislatif kali ini menandai kemunduran bagi SNS pimpinan Vucic yang sudah mendominasi politik Serbia sejak 2012.
Padahal, dalam pemilu legislatif terakhir pada Desember 2023, koalisi SNS mendapat 46,75 suara dengan raihan 129 kursi.
Sementara, koalisi oposisi terbesar saat itu, Serbia Menolak Kekerasan, mendapat 23,66 persen suara dan 65 kursi, dan koalisi Partai Sosialis pimpinan Dacic mendapat 6,55 persen suara dan 18 kursi parlemen.
Presiden Montenegro Jakov Milatovic menyampaikan selamat kepada koalisi mahasiswa atas kemenanganannya dalam pemilu. Melalui media sosial X, ia mengapresiasi rakyat Serbia yang menyampaikan suaranya via pemilu.
Ia berharap hasil pemilu tersebut membuka halaman baru dalam hubungan Montenegro-Serbia yang berasaskan persahabatan, dialog, dan masa depan bersama di Eropa.
Sementara itu, pemilu legislatif kali ini juga mengikutsertakan sejumlah partai politik yang mewakili komunitas Bosnia di Serbia, khususnya yang berada di wilayah barat daya Serbia.
Di antara partai-partai politik itu adalah Partai Keadilan dan Rekonsiliasi (SPP) yang dikenal melalui Usame Zukrlic, Partai Tindakan Demokratik Sandzak (SDA Sandzaka) pimpinan Sulejman Ugljanin, dan koalisi terpisah pimpinan Rasim Ljajic.
Pada pemilu 2023, Zukorlic berhasil mendapat 0,76 persen suara dan meraih dua kursi parlemen, sementara SDA Sandzaka menerima 0,57 persen suara dan dua kursi parlemen.
Aturan pemilu Serbia mengecualikan koalisi minoritas dari ambang batas parlemen sebesar tiga persen dan menjamin alokasi kursi bagi mereka. Namun demikian, penentuan siapa yang memenangkan kursi minoritas dilakukan setelah penetapan hasil akhir pemilu.
Pemilihan legislatif pada Minggu ditandai dengan tingginya jumlah pemilih, antrean pada TPS, dan banyaknya laporan kecurangan.
Jumlah pemilih mencapai 67,6 persen hingga pukul 7 malam waktu setempat, menurut perkiraan Ipsos dan CeSID, jauh lebih tinggi dari angka 58,7 persen pada pemilu Desember 2023.
CeSID mengatakan juga telah menerima 300 lebih laporan ketidakwajaran dalam proses pemungutan suara per pukul 8 malam. Mereka berkata akan terus memverifikasi laporan semacam itu.
Adapun modus kecurangan yang terjadi antara lain pemilih tanpa identitas diri, surat suara terpakai difoto, memilih secara rombongan, masalah teknis di TPS, serta dugaan intimidasi pemilih dan penyogokan.
Pemilihan legislatif kali ini berlangsung setelah protes antipemerintah selama dua tahun menyusul ambruknya kanopi di stasiun kereta api di Novi Sad pada November 2024 yang menewaskan 16 orang.
Tragedi tersebut memicu unjuk rasa besar-besaran oleh mahasiswa yang menuntut pertanggungjawaban dan langkah konkret terhadap korupsi. Gerakan mahasiswa tersebut kemudian tumbuh menjadi penantang politik terbesar terhadap SNS pimpinan Vucic.
Pileg pada Ahad itu merupakan pemilihan legislatif ke-15 di Serbia sejak pulihnya politik multipartai pada 1990 serta pemilu ke-10 yang digelar lebih awal dari jadwal.
KPU Republik Serbia akan terus memperbarui hasil pemilu seiring berlanjutnya penghitungan suara.
Penerjemah: Nabil Ihsan