Model pendampingan tersebut antara lain dijalankan Collaborator Hub asal Balikpapan, Nurul Ahdaniyah. Melalui PT Bungas Food Nusantara, dia mengembangkan minuman herbal Bungas Wedang Dayak sekaligus bekerja sama dengan 10 kelompok tani yang menanam bawang dayak.

"Melalui SETC ini saya bisa sharing dengan teman-teman bagaimana usaha bisa berkembang. Dan memang benar, ketika kita menanam kebaikan, kita akan menuai," kata dia.

Selama mengikuti SETC, Nurul juga mempelajari cara ekspor ke sejumlah negara, antara lain Singapura, Malaysia, Nigeria, dan Australia. Dia berharap produk berbasis bawang dayak dapat memperoleh pasar yang semakin luas.

Cerita lain datang dari Collaborator Hub asal Kebumen, Novita atau Ovi, melalui Komunitas Pelepah Berdaya. Komunitas tersebut memanfaatkan limbah pelepah menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi sekaligus memberikan pelatihan kepada warga lembaga pemasyarakatan.

"Saya itu grassroot, langsung ke masyarakat bawah banget, karena saya membina warga lembaga pemasyarakatan," ujar dia.

Menurut Ovi, pengolahan pelepah tidak hanya menghasilkan produk yang memiliki nilai jual, tetapi juga membantu warga binaan memperoleh keterampilan dan kepercayaan diri.

"Saat mereka (warga binaan) tahu bagaimana cara memanfaatkan pelepah pisang tadi, oh ternyata produk yang saya buat bisa laku di pasaran, mereka itu dengan bangga bercerita ke keluarganya. Saya melakukan pelatihan di rutan. Mereka sangat antusias," ucap Ovi, menceritakan pengalamannya membina warga binaan.

Dengan pola tersebut, pendampingan UMKM bergerak dari peningkatan kemampuan pengusaha secara individual menuju pembentukan jejaring yang memungkinkan pengetahuan, akses pasar, dan manfaat ekonomi diteruskan kepada pelaku usaha maupun komunitas lainnya.