NADIKABAR.COM — “Kalau takut dipukul, enggak usah ikut tinju,” kata Meida enteng.

Ia bicara seolah pukulan adalah hal biasa. Namun jauh sebelum mengenal ring, Meida lebih dulu menerima pukulan dalam bentuk lain: stigma sebagai anak salah didik.

Malcriada, anak perempuan tanpa aturan, menjadi label yang melekat padanya saat itu. Ia dipandang sebagai anak yang tumbuh liar. Sekolahnya berhenti di kelas 5 SD.

Pada 2025, takdir mempertemukan Meida dan Coach Dirman, seorang pelatih tinju. Pertemuan itu mengubah arah hidupnya.

Dirman mengangkatnya sebagai anak dan membawanya tinggal bersama keluarga barunya. Di sana, Meida bergelut dengan aturan, disiplin, dan tanggung jawab.