Baginya, sasana bukan hanya tempat menempa fisik. Di sana, Meida menemukan keluarga yang tak terikat darah, tetapi terjalin lewat perjuangan bersama.

Mereka jelas bukan terikat hubungan darah, melainkan dari perjuangan dan peluh yang tercurah bersama di sasana. Mereka berlatih, saling menjaga, lalu pulang dengan tubuh yang sama-sama letih.

Meski baru sebulan fokus berlatih tinju, ia berkesempatan ikut pertandingan antarsasana. Meida boleh saja kalah atau menang. Yang utama, ia berani melangkah ke ring.

Sebab, pada akhirnya, tinju bukan semata soal melayangkan pukulan. Di atas ring, Meida gigih menghadapi lawan. Di luar ring, ia tegar menghadapi hidup.