Oleh karena itu, menurut Komaidi masalah defisit perdagangan migas harus segera diatasi. Tanpa peningkatan produksi, impor minyak akan terus bertambah seiring kebutuhan pasokan minyak yang diproyeksikan mencapai 1,94β2,04 juta BOPD pada 2030.
Komaidi meyakini sejumlah indikator menunjukkan sektor hulu migas nasional masih memiliki modal untuk mendukung upaya peningkatan produksi. SKK Migas mencatat, selama lima tahun terakhir investasi hulu migas meningkat 41,6 persen, dari 10,89 miliar dolar AS pada 2021 menjadi 15,42 miliar dolar AS pada 2025.
Pada 2025, lifting minyak dilaporkan mencapai 605,3 ribu BOPD atau 100,05 persen dari target APBN. Prospek hulu migas juga diperkuat oleh hasil eksplorasi 2020β2026, yang mencatat 122 temuan dari 197 sumur yang dievaluasi dengan rasio keberhasilan 61 persen, di atas rata-rata global 45β50 persen.
βDalam beberapa tahun terakhir, eksplorasi di Indonesia juga menghasilkan sejumlah temuan migas berskala besar (big fish),β kata Komaidi memaparkan dalam diskusi dengan media.