NADIKABAR.COM — Para pemimpin Israel dan Palestina dijadwalkan menyampaikan pidato di hadapan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis (24/9), ketika isu Gaza dan masa depan Palestina menjadi salah satu agenda utama sidang hari ketiga.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas sama-sama dijadwalkan berbicara di hadapan Majelis Umum. Namun, Abbas akan menyampaikan pidatonya melalui video setelah Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) menolak menerbitkan visa masuk untuknya.

Sementara itu, Netanyahu tidak dijadwalkan bertemu pejabat Amerika Serikat maupun para pemimpin negara Arab selama kunjungannya. Kantornya menyebut "jadwal yang padat" sebagai alasan. Dalam kunjungan tersebut, Netanyahu dijadwalkan menghadiri hingga sembilan pertemuan, termasuk dengan presiden Argentina dan Bolivia, wakil presiden Kolombia, serta perdana menteri Papua Nugini.

Masa depan Gaza dan isu pembentukan negara Palestina juga menjadi pembahasan utama di sela-sela sidang Majelis Umum PBB. Inggris akan menggelar pertemuan mengenai kondisi Gaza saat ini dan masa depannya.

Arab Saudi dan Norwegia juga akan menjadi tuan rumah pertemuan tingkat menteri untuk membahas rencana penerapan apa yang disebut sebagai "solusi dua negara".

Isu Gaza sebelumnya mendapat sorotan dalam pidato sejumlah pemimpin dunia pada hari kedua Sidang Umum PBB. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menyerukan agar apa yang ia sebut sebagai "genosida" di Gaza dihentikan.

Pemimpin Suriah Ahmed al-Sharaa juga menyerukan diakhirinya pendudukan Israel atas Dataran Tinggi Golan. Ia mengatakan wilayah tersebut merupakan bagian dari Suriah.

Perkembangan tersebut berlangsung menjelang pidato Netanyahu di Majelis Umum PBB pada Kamis (24/9).

Di tengah pembahasan konflik Timur Tengah, Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul mendesak Iran mengakhiri penutupan Selat Hormuz. Seruan itu disampaikan dalam pertemuan di sela-sela sidang Majelis Umum PBB.

"Sekarang Iran harus terlibat secara konstruktif dalam negosiasi dan melonggarkan cengkeramannya," kata Wadephul kepada wartawan sebelum pertemuan.