Wadephul juga mendesak Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi untuk terlibat secara serius dan kredibel dalam negosiasi berkelanjutan dengan AS serta negara-negara tetangga di kawasan tersebut, menurut sumber dalam delegasi Jerman yang dikutip kantor berita DPA.

"Sekarang harus ada kesediaan secara menyeluruh untuk berkompromi guna menghasilkan solusi atas konflik yang buntu di kawasan tersebut," kata Wadephul.

Ia menegaskan kesiapan Jerman dan kelompok E3, yang juga mencakup Prancis dan Inggris, untuk mendukung upaya mediasi.

Dalam pertemuan tersebut, Wadephul juga menekankan perlunya Iran dan milisi yang didukungnya di kawasan, termasuk kelompok Houthi di Yaman, menghentikan serangan terhadap kapal sipil.

Berlin, kata Wadephul, mengharapkan lalu lintas bebas melalui Selat Hormuz segera dipulihkan. Jerman juga menolak adanya pungutan untuk kapal yang melintasi jalur air tersebut.

"Bukan hanya negara-negara Teluk yang menderita akibat blokade ini, tetapi juga sebagian besar wilayah Asia, Afrika, dan Eropa," kata Wadephul.

Perang Ukraina juga menjadi salah satu sorotan dalam sidang hari kedua. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menuduh Presiden Rusia Vladimir Putin memiliki ambisi teritorial yang tidak pernah terpuaskan dan mengatakan dampaknya meluas jauh melampaui Ukraina.

Zelenskyy menyoroti keterlibatan Korea Utara dalam perang Rusia-Ukraina. Ia mengatakan Ukraina baru-baru ini mengirim dua tawanan perang asal Korea Utara ke Korea Selatan.

"Dan orang-orang ini tidak mudah ditangkap hidup-hidup. Salah satunya, ketika menyadari akan ditawan, mencoba bunuh diri," kata Zelenskyy.

Menurut Zelenskyy, hal tersebut menunjukkan bagaimana personel Korea Utara dilatih serta sikap bahwa mereka "harus mati, apa pun yang terjadi".