"Tidak hanya membuat pers rilis, kita sebarkan kepada teman-teman media, tapi lebih daripada itu profesi humas harus punya peran yang lebih untuk bisa strategis membentuk apa yang ingin disampaikan, dikerjakan oleh institusi-institusi tersebut," katanya.

Ia juga menyoroti soal kemajuan teknologi komunikasi yang tidak selalu diikuti peningkatan pemahaman antarmanusia, sebab akses informasi yang semakin luas justru menghadirkan tantangan baru bagi masyarakat dalam membedakan fakta, opini, manipulasi, dan kebohongan.

"'Artificial Intelligence' telah menghadirkan peluang luar biasa bagi peradaban manusia. Namun, AI juga meningkatkan kemampuan menciptakan disinformasi, 'deepfake', manipulasi persepsi, dan berita palsu dalam skala serta kecepatan yang sebelumnya sulit dibayangkan," katanya.

Algoritma digital memungkinkan sebuah narasi menjangkau jutaan orang hanya dalam hitungan detik, namun kecepatan distribusi informasi tidak serta-merta menjamin kebenaran maupun tanggung jawab atas dampak yang ditimbulkannya.

"Kita membutuhkan kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan emosional. Kita membutuhkan data dan teknologi, tetapi juga empati dan wisdom. Kita harus memahami persoalan lokal, tetapi tidak boleh kehilangan perspektif global," katanya.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital RI (Wamenkomdigi) Nezar Patria yang menjadi pembicara kunci pada KHI mengatakan perubahan teknologi juga telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi.