NADIKABAR.COM — Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono menargetkan tahun depan gerakan koperasi nasional dapat memiliki kilang (refinery) minyak goreng. Nantinya, produk minyak goreng hasil produksi koperasi tersebut langsung diserap oleh Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).

Ferry menilai sudah saatnya koperasi petani kelapa sawit naik kelas dengan menguasai sektor hilir. Ia menyoroti ketimpangan struktural yang terjadi selama tiga dekade terakhir, ketika rantai nilai tambah industri sawit nasional, mulai dari perkebunan skala besar, pabrik CPO, hingga produk turunan seperti minyak goreng, sebagian besar dikuasai oleh korporasi besar.

"Melalui strategi penguatan ekonomi kerakyatan, Kemenkop mendorong koperasi agar tidak lagi berhenti pada pengelolaan kebun hulu, melainkan mandiri membangun pabrik Crude Palm Oil (CPO) hingga kilang minyak goreng sendiri," ujar Ferry dalam keterangannya, dikutip Kamis (29/10/2026).

Sebagai solusi atas ketimpangan tersebut, pihaknya kini mengalihkan fokus pembinaan untuk mendorong industrialisasi berbasis koperasi. Ia menjelaskan model hilirisasi ini telah dibuktikan di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, di mana sebuah koperasi sukses mengelola pabrik CPO berkapasitas 60 ton per jam dan menjadi pilot project nasional.

"Jadi, pasarnya sudah punya, outletnya sudah punya. Kita bisa bayangkan ada puluhan ribu outlet Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang bisa menjual minyak goreng milik koperasi sendiri," tutur Ferry.

Selain itu, ia juga meminta Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) agar menjalin sinergi strategis dengan PT Agrinas Palma Nusantara melalui skema kemitraan plasma. Lahan-lahan hasil penertiban Satgas Penataan Kesiapan Lahan (PKH) didorong agar dikerjasamakan dengan koperasi di bawah naungan APKASINDO agar nilai tambah ekonomi dapat dinikmati langsung oleh para petani sawit di akar rumput.

Senada dengan Kemenkop, Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menekankan bahwa kunci utama kemajuan petani sawit rakyat terletak pada kekompakan dan fokus terhadap penguatan hilirisasi.

"Para petani plasma senantiasa menjaga solidaritas, termasuk dalam menjaga stabilisasi harga Tandan Buah Segar (TBS) di tingkat petani agar tidak mudah tergiur menjual murah ke pihak luar," ucapnya.