Dalam prosesnya, BI mendatangkan ahli dari pusat penelitian untuk menangani masalah hama. Dukungan sarana seperti mesin barista juga diberikan guna menunjang hilirisasi produk. Di sisi pemasaran, program business matching yang mempertemukan petani dengan calon pembeli menjadi kunci kenaikan transaksi.

Bahkan, fasilitas studi banding ke Gayo, Aceh, yang diberikan BI membuat para petani belajar langsung mengenai sistem industri dan pertanian kopi berkualitas untuk kemudian diterapkan di daerah asal.

"BI mereka kan punya program nih, mulai concern melihat potensi kopi. Mereka support sistem sama dengan visi-misi kita bahwa ingin meningkatkan kualitas dan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani. Ada program business matching tim redaksi pelaku kopi dengan buyer, calon buyer. Dipertemukan gitu," tutur Taufik.

Sejak masifnya edukasi dan pendampingan, produktivitas kopi di wilayah ini meroket tajam. Dari yang semula hanya menghasilkan 200 ton per tahun, kini total produksi menyentuh angka 1.700 ton dengan total kapitalisasi nilai mencapai miliaran rupiah. Kopi tersebut dipasarkan tak hanya di dalam negeri, tapi juga luar negeri seperti Thailand, Taiwan, Hong Kong, Inggris, Australia, hingga Amerika Serikat meski dalam jumlah yang masih terbatas, karena terkendala jumlah petani dan luas lahan.

"Kalau saya 100% malah, jadi dua kali lipat. Setelah ada pendampingan tuh brand kita naik, kualitas kita naik, pengetahuan kita naik. Yang waktu dulu belum ada pembinaan cuma 200 ton kan. Sekarang setiap tahun naik dari 700 ton, 1.300 hingga sekarang 1.700 ton. Meskipun permintaan internasional sangat besar, ekspor saat ini masih terbatas pada skala kiloan hingga hitungan ton, seperti pengiriman 3 ton ke Taiwan dan 2 ton ke Amerika Serikat," tutur Taufik.

Sementara itu, salah satu petani muda kopi asal Palutungan, Kuningan, Robi (34) dari Kenandra Kopi memaparkan bahwa pendampingan yang diberikan BI tidak hanya sebatas promosi, melainkan mencakup fasilitasi akses pasar hingga penyediaan bantuan alat pengolahan (processing) serta sarana pendukung pertanian.

Robi menjelaskan, sebagai petani yang pernah tertipu pembeli fiktif dan mengakibatkan kerugian hingga puluhan juta rupiah, program akses pasar dari BI jelas sangat penting baginya. Lewat akses pasar tersebut ia bisa bertemu dengan calon pembeli (buyer) dengan aman dan nyaman. Kondisi tersebut membuat jumlah produksi dan omzet yang dihasilkan juga menjadi semakin meningkat.

"Alhamdulillah fasilitas akses pasar dari BI ini sangat membantu. Soalnya dulu sekitar dua tahun lalu, pernah tertipu atau kerugiannya Rp 40 jutaan lebih. Jadi barangnya sudah nggak ada, dikirim, orangnya malah hilang. Dari awal-awal lahan hanya setengah hektar, sekarang hampir 15 sampai 20 hektar. Kalau sekarang hasil panen dari 5 hektar yang produktif bisa dapat 2 ton sekali panen. Kita dapat 2 ton kali itu hampir sudah hampir 60 sampai 70 juta sekali musim panen," tutur Robi.

Tidak berhenti sampai situ, Dadan Muhammad Ramdani, pendiri Merta Coffee Desa Karangsari, Kuningan memaparkan bahwa pendampingan yang dilakukan BI Cirebon dari hulu ke hilir membawa kopi Arabika Karangsari tembus ke pasar internasional. Setidaknya, usai kurasi yang ketat, ada dua event kopi internasional yang pernah diikuti Kopi Karangsari yakni World of Coffee di Bangkok 2026 dan World of Coffee di Jakarta 2025.

Menurut Dadan, keikutsertaan dalam pameran seperti World of Coffee membuka panggung langsung bagi pembeli (buyers) mancanegara untuk mengenal cita rasa kopi Karangsari. Bahkan, usai acara, permintaan kopi Arabika Karangsari melonjak drastis. Namun, karena keterbatasan produksi, pihaknya masih belum bisa memenuhi permintaan tersebut.