"Usai ajang tersebut, permintaan yang masuk mencapai kurang lebih 35 ton. Bahkan ada penawaran dari Portugal yang meminta hingga 1.000 ton per tahun. Permintaan itu belum bisa kita penuhi seluruhnya karena kapasitas produksi dan luas lahan kita saat ini masih terbatas. Di Karangsari produksinya baru berkisar 5 ton per panen dari lahan sekitar 20 hektar. Apalagi sebagian lahan di sana juga digunakan warga untuk tanaman hortikultura. Untuk omzetnya bisa Rp 700 juta sampai Rp 900 juta sekali panen, beda sama dulu sebelum pendampingan hanya Rp 25 jutaan," tutur Dadan.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Cirebon, Wihujeng Ayu Renganis memaparkan bahwa kopi di wilayah Kuningan dan sekitarnya memiliki potensi yang besar. Menurutnya, secara historis kopi dari wilayah Karesidenan Cirebon, termasuk Kuningan, telah memiliki perjalanan panjang hingga menembus pasar mancanegara.

Melihat potensi tersebut, Bank Indonesia melakukan pendampingan terhadap Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Buana Ciremai yang wilayahnya meliputi Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka. Pendampingan dilakukan mulai dari sisi hulu hingga hilir.

Pendampingan tersebut meliputi peningkatan produktivitas, kualitas, dan mutu kopi agar mampu bersaing di tingkat nasional hingga internasional. Tak hanya itu, pihaknya juga mendorong dan mempromosikan kopi Buana Ciremai kepada para UMKM dan kafe sebagai produk unggulan dari Gunung Ciremai. Menurutnya, kopi bisa menjadi pengungkit ekonomi di daerah.

"Potensi kopi yang ada di Kabupaten Kuningan dan sekitarnya ini luar biasa untuk kita dorong menjadi pengungkit ekonomi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di wilayah Kuningan dan sekitarnya. Kami bawa kopi-kopi Kuningan ini ke dunia, ke panggung dunia, ke World of Coffee di Bangkok mewakili Kuningan untuk menunjukkan bahwa kualitasnya tidak kalah dengan kopi yang lainnya," tutur Wihujeng dalam acara Ciremai Coffee Culture Festival, Jumat (4/9/2026).

Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar menyebutkan bahwa produksi kopi Kuningan terus mengalami peningkatan dari 775 ton pada 2023 menjadi 1.236 ton hanya dalam kurun waktu satu tahun. Meski terus mengalami peningkatan, namun permintaan dari buyer internasional hingga 30 ton kopi Arabika masih belum bisa terpenuhi karena kapasitas dan permodalan yang masih terbatas.

Meski belum bisa dipenuhi, namun kondisi tersebut justru menjadi peluang sekaligus pekerjaan rumah bersama untuk membangun ekosistem kopi yang mampu menjamin kuantitas, kontinuitas, kualitas, serta kelembagaan usaha.

Dalam acara Ciremai Coffee Culture Festival juga dilakukan penandatanganan SK Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) secara bersama tim redaksi Pemerintah Kabupaten Kuningan, Pemerintah Kabupaten Majalengka, dan Bank Indonesia. Langkah ini merupakan bagian penting dalam memperkuat perlindungan terhadap keaslian, mutu, cita rasa, serta daya saing Kopi Ciremai.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Bank Indonesia yang selama ini turut mendukung pengembangan kopi Kuningan. Menurutnya, sinergi tersebut perlu terus diperkuat agar kopi Kuningan dapat naik kelas.

"Kita siap bagaimana kita menggandeng, memberikan pendampingan sehingga kopi Kuningan bisa naik kelas. Kita bangga, tapi saya kira tidak sampai bangga saja. Saya ingin bergerak lebih jauh," pungkas Dian.