Menurut Bionda, para korban tergiur karena perusahaan sempat membuka gerai di Jakarta, Surabaya, dan Denpasar. Namun belakangan, gerai-gerai tersebut telah ditutup dan pengurus perusahaan tidak dapat dihubungi.

Salah satu korban, Bernardus (38), menceritakan bahwa awalnya dia membeli perak dengan sistem PO dari perusahaan itu. Namun, pada pemesanan awal barang dikirim dengan baik.

"Awal mulanya saya juga takut karena ini sistemnya PO. Di sini ada uang tapi belum ada barang, gitu. Jadi, saya beli jumlah sedikit dulu," kata Bernardus.

"Menunggu satu bulan, beneran dikirim, lalu saya otomatis juga tes keasliannya. Saya bawa ke toko emas, dites kadarnya, kadar peraknya. Dan benar itu asli. Jadi, ya, saya beli terus. Ya, begitulah, jadi umpannya itu asli," ungkapnya.

Namun pengiriman mulai tersendat sejak awal tahun dan keterlambatan semakin parah hingga pihak perusahaan gencar menawarkan diskon besar pada Juli-Agustus. Akibatnya, Bernardus mengaku merugi hingga miliaran rupiah.

"Akhirnya sampai akhirnya yang mereka buka cabang di Jakarta itu sekitar Mei-Juni, nah itu saya beli lagi di situ. Dan terakhir ini di bulan Juli-Agustus itu mulailah gencar-gencaran diskon. Diskonnya fantastis, sampai satu kali lipat lebih bahkan, gitu," tutur Bernadus.

"Saya hitungnya di Rp1 M lah, sekitar Rp1 M kalau dicampur (emas dan perak)," imbuhnya mengenai total transaksi yang belum terealisasi.